YA... Terima kasih untuk PERTAMINA di Menara Standard Chartered Bank Lt. 29 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950, kami dilarang Shalat Jumat di tempat anda...
Hari Jumat di bulan Puasa
12 September 2008 M atau 12 Ramadhan 1429 H
Jam 11:45 WIB
12 September 2008 M atau 12 Ramadhan 1429 H
Jam 11:45 WIB
Awalnya saya dan beberapa teman antv, tvOne juga kanalOne hendak ke Lt. 29 di Menara Standard Chartered, dengar-dengar di situ ada yang menyelenggarakan Shalat Jumat. Kami ke lantai itu satu lift bersama dengan karyawan Pertamina yang juga akan shalat Jumat di sana.
Begitu sampai di situ, karyawan Pertamina langsung masuk ke sebuah ruangan besar yang memang disulap untuk jadi tempat Shalat Jumat. Tapi begitu sekuriti Pertamina melihat saya yang berjalan paling depan di antara teman-teman saya, ID Card saya yang terpampang jelas terbaca olehnya, langsung dihadang dengan tangan seperti gembala yang sedang menghalau ternaknya;
"Maaf! Yang dari antv, yang bukan dari Pertamina, shalat Jumatnya nanti dulu setelah terisi penuh oleh orang-orang Pertamina! Silahkan tunggu dulu di luar!"
Berbicara dengan nada yang kasar, seolah kami bukan Islam dan berbeda agama dengan orang-orang Pertamina. Karyawan Pertamina yang satu lift dengan kami juga tak membela apa-apa, cuma melirik, melihat, lalu melengos. Sungguh terasa kami seperti bukan satu Islam dengan mereka. Emosi menggelegak di kepala, saya balas omongannya dengan kasar;
"Baik! Makasih Mas! Kita memang beda agama! Tuhan kita beda! Wajar kalo kita nggak boleh shalat di sini!"
* * * * *
Itu pikiran saya yang masih diliputi emosi. Begitu turun ke lantai bawah, kami pergi ke masjid dekat Menara Standard Chartered Bank, saya jadi terpikir banyak hal tentang Islam Eksklusif. Sangat wajar apabila Pertamina yang mempunyai space ruang yang cukup besar untuk dijadikan tempat Shalat Jumat, akhirnya lebih memilih mengutamakan semua karyawannya untuk Shalat Jumat bersama ketimbang orang lain, karyawan lain yang justru ingin Shalat Jumat bersama di situ.
Entah kaedah Ukhuwah Islamiyah macam mana yang mau diartikan, tapi ini persis seperti kategori makro gerakan izzul Islam wal muslimin (menjunjung tinggi kemuliaan Islam dan umat muslim) ketimbang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi dunia).
Izzul Islam menganggap bahwa Islam diturunkan untuk meluhurkan martabat manusia dalam hal ini eksklusif hanya islam dan kaum muslim saja. Kalo kita kaji dari Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, misalnya saja seperti gerakan DDII, LDII, FPI, MMI, HTI, maupun Persis. Semua yang tak sesuai aturannya dianggap tak sejalan. Pola pemikirannya lebih ke arah eksklusifisme Islam dalam konteks kelompoknya sendiri.
Rahmatan lil 'alamin menganggap bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat seluruh umat manusia di dunia. Ada dan lahirnya Islam adalah untuk bersosialisasi, bermasyarakat, tak hanya yang satu agama Islam saja, namun dengan semua agama. Kalo kita kaji dari Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, misalnya saja seperti NU, Muhammadiyah, Perti, Nahdlatul Wathan, al-Khairat, al-Washilah dan sebagainya. Islam dianggap sebagai gerakan inklusif, di mana segala perbedaan adalah sebagai rahmat menurut Hadist Nabi.
* * * * *
Apapun adanya, Pertamina yang melarang kami Shalat Jumat di lingkungannya, benar-benar meyakinkan saya akan slogannya, "Pertamina Pasti Pas", di mana Shalat Jumat juga harus pas diisi oleh orang-orang dan karyawannya saja ketimbang kami orang lain yang juga sama-sama muslim. Kalo diisi oleh kami yang bukan karyawan Pertamina, meski sama-sama muslim, slogan itu harus diganti karena memang tidak pas...
Apa kami memang bukan muslim yang seperti mereka?
Jadi kami dilarang untuk Shalat Jumat di sana?
Ah! Capek deeehhh... Bulan puasa su'udzon melulu!
Yang pasti saya ucapkan berkali-kali...
Terima kasih untuk PERTAMINA di Menara Standard Chartered Bank Lt. 29 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950, kami dilarang Shalat Jumat di tempat anda...
NOTE:
Saya sangat berharap blog ini bisa dibaca oleh orang Pertamina dan memberikan komentar atau klarifikasinya terhadap kejadian ini.






