Thursday, September 11, 2008

Terima Kasih PERTAMINA, Kami Dilarang Shalat Jumat di Tempat Anda!


YA... Terima kasih untuk PERTAMINA di Menara Standard Chartered Bank Lt. 29 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950, kami dilarang Shalat Jumat di tempat anda...


Hari Jumat di bulan Puasa
12 September 2008 M atau 12 Ramadhan 1429 H
Jam 11:45 WIB

Awalnya saya dan beberapa teman antv, tvOne juga kanalOne hendak ke Lt. 29 di Menara Standard Chartered, dengar-dengar di situ ada yang menyelenggarakan Shalat Jumat. Kami ke lantai itu satu lift bersama dengan karyawan Pertamina yang juga akan shalat Jumat di sana.

Begitu sampai di situ, karyawan Pertamina langsung masuk ke sebuah ruangan besar yang memang disulap untuk jadi tempat Shalat Jumat. Tapi begitu sekuriti Pertamina melihat saya yang berjalan paling depan di antara teman-teman saya, ID Card saya yang terpampang jelas terbaca olehnya, langsung dihadang dengan tangan seperti gembala yang sedang menghalau ternaknya;

"Maaf! Yang dari antv, yang bukan dari Pertamina, shalat Jumatnya nanti dulu setelah terisi penuh oleh orang-orang Pertamina! Silahkan tunggu dulu di luar!"

Berbicara dengan nada yang kasar, seolah kami bukan Islam dan berbeda agama dengan orang-orang Pertamina. Karyawan Pertamina yang satu lift dengan kami juga tak membela apa-apa, cuma melirik, melihat, lalu melengos. Sungguh terasa kami seperti bukan satu Islam dengan mereka. Emosi menggelegak di kepala, saya balas omongannya dengan kasar;

"Baik! Makasih Mas! Kita memang beda agama! Tuhan kita beda! Wajar kalo kita nggak boleh shalat di sini!"

* * * * *

Itu pikiran saya yang masih diliputi emosi. Begitu turun ke lantai bawah, kami pergi ke masjid dekat Menara Standard Chartered Bank, saya jadi terpikir banyak hal tentang Islam Eksklusif. Sangat wajar apabila Pertamina yang mempunyai space ruang yang cukup besar untuk dijadikan tempat Shalat Jumat, akhirnya lebih memilih mengutamakan semua karyawannya untuk Shalat Jumat bersama ketimbang orang lain, karyawan lain yang justru ingin Shalat Jumat bersama di situ.

Entah kaedah Ukhuwah Islamiyah macam mana yang mau diartikan, tapi ini persis seperti kategori makro gerakan izzul Islam wal muslimin (menjunjung tinggi kemuliaan Islam dan umat muslim) ketimbang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi dunia).

Izzul Islam menganggap bahwa Islam diturunkan untuk meluhurkan martabat manusia dalam hal ini eksklusif hanya islam dan kaum muslim saja. Kalo kita kaji dari Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, misalnya saja seperti gerakan DDII, LDII, FPI, MMI, HTI, maupun Persis. Semua yang tak sesuai aturannya dianggap tak sejalan. Pola pemikirannya lebih ke arah eksklusifisme Islam dalam konteks kelompoknya sendiri.

Rahmatan lil 'alamin menganggap bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat seluruh umat manusia di dunia. Ada dan lahirnya Islam adalah untuk bersosialisasi, bermasyarakat, tak hanya yang satu agama Islam saja, namun dengan semua agama. Kalo kita kaji dari Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, misalnya saja seperti NU, Muhammadiyah, Perti, Nahdlatul Wathan, al-Khairat, al-Washilah dan sebagainya. Islam dianggap sebagai gerakan inklusif, di mana segala perbedaan adalah sebagai rahmat menurut Hadist Nabi.

* * * * *

Apapun adanya, Pertamina yang melarang kami Shalat Jumat di lingkungannya, benar-benar meyakinkan saya akan slogannya, "Pertamina Pasti Pas", di mana Shalat Jumat juga harus pas diisi oleh orang-orang dan karyawannya saja ketimbang kami orang lain yang juga sama-sama muslim. Kalo diisi oleh kami yang bukan karyawan Pertamina, meski sama-sama muslim, slogan itu harus diganti karena memang tidak pas...

Apa kami memang bukan muslim yang seperti mereka?

Jadi kami dilarang untuk Shalat Jumat di sana?

Ah! Capek deeehhh... Bulan puasa su'udzon melulu!

Yang pasti saya ucapkan berkali-kali...

Terima kasih untuk PERTAMINA di Menara Standard Chartered Bank Lt. 29 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950, kami dilarang Shalat Jumat di tempat anda...


NOTE:
Saya sangat berharap blog ini bisa dibaca oleh orang Pertamina dan memberikan komentar atau klarifikasinya terhadap kejadian ini.

Waktu


Bayangkan jika ada sebuah bank yang memberi kita pinjaman sejumlah 86.400,- setiap paginya dan semuanya harus digunakan. Pada malam hari, bank akan menghapus sisanya yang tidak digunakan selama sehari.

Apa yang akan kita lakukan?

Tentu saja menghabiskan semua pinjaman itu.

Setiap dari kita memiliki semacam itu. Ia bernama WAKTU.

Setiap pagi, ia selalu memberi kita 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak digunakan untuk tujuan baik, yaitu dengan tidur, Karena ia tidak pernah memberikan sisa waktunya. Ia juga tidak memberikan penangguhan atau tambahan kelebihan. Setiap hari ia akan membuka satu rekening baru untuk kita. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Jika Ia tidak digunakan maka kerugian akan menimpa kita.

Kita tidak bisa menariknya kembali. Kita juga tidak bisa meminta "uang muka" untuk keesokan harinya. Kita harus hidup dalam simpanan hari ini.

Jam terus berdetak, baiknya menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya...

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal kelas.

Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada wartawan majalah mingguan.

Agar tahu pentingnya waktu SEHARI, tanyakan pada wartawan koran harian.

Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.

Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang.

Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.

Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.

Waktu,
Ia tidak pernah menunggu siapa-siapa....

[Anonymous]

Sumber Ilustrasi: Clipart Photograph


Macam-Macam Tarekat


Jumlah Tarekat sangat banyak, akan tetapi yang memiliki anggota yang cukup banyak tersebar di banyak negara di seluruh dunia sampai kini ada tujuh, yaitu:

1.  Tarekat Khalawatiyah
2.  Tarekat Naqsyabandiyah
3.  Tarekat Qadiriyah
4.  Tarekat Rifa’yah
5.  Tarekat Sammaniyah
6.  Tarekat Syaziliyah
7.  Tarekat Tijaniyah
1.  Tarekat Khalawatiyah

Cabang dari Tarekat Aqidah Suhrardiyah yang didirikan di Baghdat oleh Abdul Qadir Suhrawardi dan Umar Suhrawardi. Mereka menamakan diri golongan Siddiqiyah karena mengklaim sebagai keturunan kahlifah Abu Bakar r.a. Khalawatiyah ini didirikan di Khurasan oleh Zahiruddin dan berhasil berkembang sampai ke Turki. Tidak mengherankan jika Tarekat Khalawatiyah ini banyak cabangnya antara lain; Tarekat Dhaifiyah di Mesir dan di Somalia dengan nama Salihiyah.

Tarekat Khalawatiyah ini membagi manusia menjadi tujuh tingkatan:

a.  Manusia yang berada dalam nafsul ammarah
Mereka yang jahil, kikir, angkuh, sombong, pemarah, gemar kepada kejahatan, dipengaruhi syahwat dan sifat-sifat tercela lainnya. Mereka ini bisa membebaskan diri dari semua sifat-sifat tidak terpuji tersebut dengan jalan memperbanyak zikir kepada Allah SWT dan mengurangi makan-minum.
Maqam mereka adalah aghyar, artinya kegelap-gulitaan.

b.  Manusia yang berada dalam nafsul lawwamah
Mereka yang gemar dalam mujahaddah (meninggalkan perbuatan buruk) dan berbuat saleh, namun masih suka bermegah-megahan dan suka pamer. Cara untuk melenyapkan sifat-sifat buruk tersebut adalah mengurangi makan-minum, mengurangi tidur, mengurangi bicara, sering menyendiri dan memperbanyak zikir serta berpikir yang baik-baik.
Maqam mereka adalah anwar, artinya cahaya yang bersinar.

c.  Manusia yang berada dalam nafsul mulhamah
Mereka yang kuat mujahaddah dan tajrid, karena ia telah menemui isyarat-isyarat tauhid, namun belum mampu melepaskan diri dari hukum-hukum manusia. Cara untuk melepaskan kekurangannya adalah dengan jalan menyibukkan batinnya dalam Hakikat Iman dan menyibukkan diri dalam Syari’at Islam.
Maqam mereka adalah kamal, artinya kesempurnaan.

d.  Manusia yang berada dalam nafsul muthma’innah
Mereka yang tidak sedikit pun meninggalkan ajaran Islam, mereka merasa nyaman jika berakhlak seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan merasa belum tentram hatinya jika belum mengikuti petunjuk dan sabda Beliau.
Manusia seperti ini sangat menyenangkan siapa pun yang melihatnya dan mengajaknya berbicara.

e.  Manusia yang berada dalam nafsul radhiyah
Mereka yang sudah tidak menggantungkan diri kepada sesama manusia, melainkan hanya kepada Allah SWT. Mereka umumnya sudah melepaskan sifat-sifat manusia biasa.
Maqam mereka adalah wisal, artinya sampai dan berhubungan.

f.  Manusia yang berada dalam nafsul mardhiyah
Mereka yang telah berhasil meleburkan dirinya ke dalam kecintaan khalik dan khalak, tidak ada penyelewengan dalam syuhudnya. Ia menepati segala janji Tuhan dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Maqam mereka adalah tajalli af’al, artinya kelihatan Tuhan.

g.  Manusia yang berada dalam nafsul kamillah
Mereka yang dalam beribadah menyertakan badannya, lidahnya, hatinya dan anggota-anggota tubuhnya yang lain. Mereka ini banyak beristighfar, banyak ber-tawadhu’ (rendah hati atau tidak suka menyombongkan diri). Kesenangan dan kegemarannya adalah dalam tawajjuh khalak.
Maqam mereka adalah tajalli sifat, artinya tampak nyata segala sifat Tuhan.


2. 
Tarekat Naqsyabandiyah

Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah ialah Muhammad bin Baha’uddin Al-Huwaisi Al Bukhari (717-791 H). Ulama sufi yang lahir di desa Hinduwan – kemudian terkenal dengan Arifan, beberapa kilometer dari Bukhara. Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah ini juga dikenal dengan nama Naqsyabandi yang berarti lukisan, karena ia ahli dalam memberikan gambaran kehidupan yang ghaib-ghaib. Kata ‘Uwais’ ada pada namanya, karena ia ada hubungan nenek dengan Uwais Al-Qarni, lalu mendapat pendidikan kerohanian dari wali besar Abdul Khalik Al-Khujdawani yang juga murid Uwais dan menimba ilmu Tasawuf kepada ulama yang ternama kala itu, Muhammad Baba Al-Sammasi.

Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan zikir-zikir yang sangat sederhana, namun lebih mengutamakan zikir dalam hati daripada zikir dengan lisan.

Ada enam dasar yang dipakai sebagai pegangan untuk mencapai tujuan dalam Tarekat ini, yaitu:

a.  Tobat

b.  Uzla  (Mengasingkan diri dari masyarakat ramai yang dianggapnya telah mengingkari ajaran-ajaran Allah dan beragam kemaksiatan, sebab ia tidak mampu memperbaikinya)

c.  Zuhud (Memanfaatkan dunia untuk keperluan hidup seperlunya saja)

d.  Taqwa

e.  Qanaah (Menerima dengan senang hati segala sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah SWT)

f.  Taslim (Kepatuhan batiniah akan keyakinan qalbu hanya pada Allah)

Hukum yang dijadikan pegangan dalam Tarekat Naqsyabandiyah ini juga ada enam, yaitu:

a.  Zikir

b.  Meninggalkan hawa nafsu

c.  Meninggalkan kesenangan duniawi

d.  Melaksanakan segenap ajaran agama dengan sungguh-sungguh

e.  Senantiasa berbuat baik (ihsan) kepada makhluk Allah SWT

f.  Mengerjakan amal kebaikan
3.  Tarekat Qadiriyah

Pendiri Tarekat Qadiriyah adalah Syeikh Abduk Qadir Jailani, seorang ulama yang zahid, pengikut mazhab Hambali. Ia mempunyai sebuah sekolah untuk melakukan suluk dan latihan-latihan kesufian di Baghdad. Pengembangan dan penyebaran Tarekat ini didukung oleh anak-anaknya antara lain Ibrahim dan Abdul Salam. Sebagaimana Tarekat yang lain, Qadiriyah juga memiliki dan mengamalkan zikir dan wirid tertentu.

Sejak kecil, Syeikh Abdul Qadir telah menunjukkan tanda-tanda sebagai Waliyullah yang besar. Ia adalah anak yang sangat berbakti pada orang tua, jujur, gemar belajar dan beramal serta menyayangi fakir miskin dan selalu menjauhi hal0hal yang bersifat maksiat. Ia memang lahir dan dididik dalam keluarga yang taat karena ibunya yang bernama Fatimah dan kakeknya Abdullah Sum’i adalah wali Allah SWT.

Syeikh Abdul Qadir Jailani dikaruniai oleh Allah SWT keramat sejak masih muda, sekitar usia 18 tahun. Dikisahkan dalam manaqib (biografi) beliau bahwa ketika ia akan membajak sawah, sapi yang menarik bajak mengatakan kepadanya, “Engkau dilahirkan ke dunia bukan untuk kerja begini.” Peristiwa yang mengejutkan ini mendorongnya untuk bergegas pulang. Ketika ia naik ke aatas atap rumah, mata batinnya melihat dengan jelas suatu majelis yang sangat besar di Padang Arafah. Setelah itu ia memohojn kepada ibunya agar membaktikan dirinya kepada Allah SWT dan berkenan mengirimkannya ke kota Baghdad yang kala itu menjadi pusat ilmu pengetahuan yang terkenal bagi kaum muslimin. Dengan sangat berat hati ibunya pun mengabulkannya.

Suatu hari bergabunglah Abdul Qadir Jailani dengan kafilah yang menuju Baghdad. Ketika hampir sampai di tujuan, kafilah ini dikepung oleh sekawanan perampok. Semua harta benda milik kafilah dirampas, kecuali bekal yang dibawa oleh Abdul Qadir Jailani. Salah seorang kawanan perampok kemudian mendatanginya dan bertanya, “Apa yang engkau bawa?” Dengan jujur Abdul Qadir Jailani menjawab, “Uang empat puluh dinar.”

Perampok itu membawa Abdul Qadir Jailani menghadap pimpinannya dan menceritakan tentang uang empat puluh dinar. Pemimpin perampok itu pun segera meminta uang yang empat puluh dinar tadi, namun ia merasa terpesona oleh kepribadian Abdul Qadir Jailani. “Mengapa engkau berkata jujur tentang uang ini?” Dengan tenang Abdul Qadir Jailani, “Saya telah berjanji kepada ibu untuk tidak berbohong kepada siapapun dan dalam keadaan apapun.

Seketika pemimpin perampok tersebut terperangah, sejenak kemudian ia menangis dan menyesali segala perbuatan zalimnya. “Mengapa saya berani terus-menerus melanggar peraturan Tuhan, sedangkan pemuda ini melanggar janji pada ibunya sendiri saja tidak berani.” Ia kemudian memerintahkan semua barang rampasan kepada pemiliknya masing-masing dan sejak itu berjanji untuk mencari rezeki dengan jalan yang halal.

Semasa Abdul Qadir Jailani masih hidup, Tarekat Qadiriyah sudah berkembang ke beberapa penjuru dunia, antara lain ke Yaman yang disiarkan oleh Ali bin Al-Haddad, di Syiria oleh Muhammad Batha’, di Mesir oleh Muhammad bin Abdus Samad serta di Maroko, Turkestan dan India yang dilakukan oleh anak-anaknya sendiri. Mereka sangat berjasa dalam menyempurnakan Tarekat Qadiriyah. Mereka pula yang menjadikan tarekat ini sebagai gerakan yang mengumpulkan dan menyalurkan dana untuk keperluan amal sosial.
4.  Tarekat Rifa’yah

Pendirinya Tarekat Rifaiyah adalah Abul Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifai. Ia lahir di Qaryah Hasan, dekat Basrah pada tahun 500 H (1106 M), sedangkan sumber lain mengatakan ia lahir pada tahun 512 H (1118 M). Sewaktu Ahmad berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia lalu diasuh pamannya, Mansur Al-Batha’ihi, seorang syeikh Trarekat. Selain menuntut ilmu pada pamannya tersebut ia juga berguru pada pamannya yang lain, Abu Al-Fadl Ali Al Wasiti, terutama tentang Mazhab Fiqh Imam Syafi’i. Dalam usia 21 tahun, ia telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya dan khirqah 9 sebagai pertanda sudah mendapat wewenang untuk mengajar.

Ciri khas Tarekat Rifaiyah ini adalah pelaksanaan zikirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Zikir tersebut dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, antara lain berguling-guling dalam bara api, namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak mempan oleh senjata tajam.
5.  Tarekat Sammaniyah

Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan Syeikh Muhammad Saman, seorang guru masyhur yang mengajarkan Tarekat di Madinah. Banyak orang Indonesia terutama dari Aceh yang pergi ke sana mengikuti pengajarannya. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika Tarekat ini tersebar luas di Aceh dan terkenal dengan nama Tarekat Sammaniyah.

Sebagaimana guru-guru besar Tasawuf, Syeikh Muhammad Saman terkenal akan kesalehan, kezuhudan dan kekeramatannya. Salah satu keramatnya adalah ketika Abdullah Al-Basri  – karena melakukan kesalahan – dipenjarakan di Mekkah dengan kaki dan leher di rantai. Dalam keadaan yang tersiksa, Al-Basri menyebut nama Syeikh Muhammad Saman tiga kali, seketika terlepaslah rantai yang melilitnya. Kepada seorang murid Syeikh Muhammad Saman yang melihat kejadian tersebut, Al-Basri menceritakan, “kulihat Syeikh Muhammad Saman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus.”

Perihal awal kegiatan Syeikh Muhammad Saman dalam Tarekat dan Hakikat, menurut Kitab Manaqib Tuan Syeikh Muhammad Saman, adalah sejak pertemuannya dengan Syeikh Abdul Qadir Jailani. Kisahnya, di suatu ketika Syeikh Muhammad Saman berkhalwat (bertapa) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu datang Syeikh Abdul Qadir Jailani membawakan pakaian jubah putih. “Ini pakaian yang cocok untukmu.” Ia kemudian memerintahkan Syeikh Muhammad Saman agar melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya. Konon semula Syeikh Muhammad Saman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah SAW menyebarkannya dalam kota Madinah.

Tarekat Sammaniyah juga mewiridkan bacaan zikir yang biasanya dilakukan secara bersama-sama pada Malam Jum’at di masjid-masjid atau mushalla sampai jauh tengah malam. Selain itu ibadah yang diamalkan oleh Syeikh Muhammad Saman yang diikuti oleh murid-muridnya sebagai Tarekat antara lain adalah shalat sunnah Asyraq dua raka’at, shalat sunnah Dhuha dua belas raka’at, memperbanyak riadhah (melatih diri lahir batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.
6.  Tarekat Syaziliyah

Pendiri Tarekat Syaziliyah adalah Abdul Hasan Ali Asy-Syazili, seorang ulama dan sufi besar. Menurut silsilahnya, ia masih keturunan Hasan, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW. Ia dilahirkan pada 573 H di suatu desa kecil di kawasan Maghribi. Tentang arti kata “Syazili” pada namanya yang banyak dipertanyakan orang kepadanya, konon ia pernah menanyakannya kepada Tuhan dan Tuhan pun memberikan jawaban, “Ya Ali, Aku tidak memberimu nama Syazili, melainkan Syazz yang berarti jarang karena keistimewaanmu dalam berkhidmat kepada-Ku.

Ali Syazili terkenal sangat saleh dan alim, tutur katanya enak didengar dan mengandung kedalaman makna. Bahkan bentuk tubuh dan wajahnya, menurut orang-orang yang mengenalnya, konon mencerminkan keimanan dan keikhlasan. Sifat-sifat salehnya telah tampak sejak ia masih kecil. Apalagi setelah ia berguru pada dua ulama besar – Abu Abdullah bin Harazima dan Abdullah Abdussalam ibn Masjisy – yang sangat meneladani khalifah Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib.

Dalam jajaran sufi, Ali Syazili dianggap seorang wali yang keramat. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ia pernah mendatangi seorang guru untuk mempelajari suatu ilmu. Tanpa basa-basi sang guru mengatakan kepadanya, “Engkau mendapatkan ilmu dan petunjuk beramal dariku? Ketahuilah, sesungguhnya engkau adalah salah seorang guru ilmu-ilmu tentang dunia dan ilmu-ilmu tentang akhirat yang terbesar.” Kemudian pada suatu waktu, ketika ingin menanyakan tentang Ismul A’zam kepada gurunya, seketika ada seorang anak kecil datang kepadanya, “Mengapa engkau ingin menanyakan tentang Ismul A’zam kepada gurumu? Bukankah engkau tahu bahwa Ismul A’zam itu adalah engkau sendiri?”

Tarekat Syaziliyah merupakan Tarekat yang paling mudah pengamalannya. Dengan kata lain tidak membebani syarat-syarat yang berat kepada Syeikh Tarekat. Kepada mereka diharuskan:

a.  Meninggalkan segala perbuatan maksiat.

b.  Memelihara segala ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan lain-lain.

c.  Menunaikan ibadah-ibadah sunnah semampunya.

d.  Zikir kepada Allah SWT sebanyak mungkin atau minimal seribu kali dalam sehari semalam dan beristighfar sebanyak seratus kali sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.

e.  Membaca shalawat minimal seratus kali sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.
7.  Tarekat Tijaniyah

Pendiri Tarekat Tijaniyah ialah Abdul Abbas bin Muhammad bin Muchtar At-Tijani (1737-1738), seorang ulama Algeria yang lahir di ‘Ain Mahdi. Menurut sebuah riwayat, dari pihak bapaknya ia masih keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Keistimewaannya adalah pada saat ia berumur tujuh tahun, Konon Tijani sudah menghapal Alqur’an, kemudian mempelajari pengetahuan Islam yang lain, sehingga ia menjadi guru dalam usia belia.

Ketika naik haji di Madinah, Tijani berkenalan dengan Muhammad bin Abdul Karim As-Samman, pendiri Tarekat Sammaniyah. Setelah itu ia mulai mempelajari ilmu-ilmu rahasia batin. Gurunya yang lain dalam bidang Tarekat ini ialah Abu Samghun As-Shalasah. Dari sinilah pandangan batinnya mulai terasah. Bahkan konon dalam keadaan terjaga ia bertemu Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kepadanya beberapa wirid, istighfar dan shalawat yang masing-masing harus diucapkan seratus kali dalam sehari semalam. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan agar Tijani mengajarkan wirid-wirid tersebut kepada semua orang yang menghendakinya.

Wirid-wirid yang harus diamalkan dalam Tarekat Tijaniyah sangat sederhana, yaitu terdiri dari istighfar seratus kali, shalawat seratus kali dan tahlil seratus kali. Semua wirid tersebut boleh diamalkan dua waktu sehari yaitu pagi setelah Shalat Shubuh dan sore setelah Shalat Ashar.


Sumber Tulisan:
  • Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam; Edisi Senior, Cetakan VIII,  Penebar Salam, Jakarta, September 2000
  • Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat; Kajian Historis tentang Mistik, Cetakan IX, Ramadhani, Solo, 1993
Sumber Ilustrasi:
Sufi Tariqat by studiovalentine.com

Tarekat


Makna Tarekat secara harfiah adalah petunjuk, jalan, cara atau metode. Apabila dikaitkan dengan bidang Tasawuf, menurut Syeikh Najmuddin dalam bukunya Jami’ul Auliya dapat diuraikan bahwa, “Syari’at adalah himpunan peraturan, Tarekat adalah cara pelaksanaan, Hakikat adalah keadaan, dan Makrifat adalah tujuan akhirnya.”

Untuk memperkuat uraian tersebut, Syeikh Najmuddin memberi contoh tentang bersuci (mensucikan diri). Menurut Syari’at Islam, bersuci dilakukan dengan air atau tanah (Tayammum). Akan tetapi ada tingkatan yang lebih tinggi dari bersuci yang tidak menyimpang dari Syari’at, bahkan menyempurnakannya, yakni melakukan bersuci secara Tarekat dengan membersihkan diri kita dari hawa nafsu. Dengan demikian kebersihan itu dilakukan secara Hakikat, yaitu mengosongkan hati dari segala sesuatu yang bersifat selain Allah SWT.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Tarekat dalam Tasawuf adalah suatu petunjuk yang harus dilaksanakan oleh setiap calon sufi untuk mencapai tujuannya, yakni berada di hadirat Allah SWT. Tanda tercapainya tujuan itu adalah tidak adanya hijab, dinding yang membatasi mata batin seseorang dengan Allah SWT.

Sebelum mencapai tujuan itu, calon sufi harus melalui beberapa tahapan:

1.    Tobat
Memohon ampunan dari Allah SWT atas dosa-dosanya baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

2.    Zuhud
Sikap hidup yang tidak terlalu mencintai kesenangan duniawi baik itu berupa kedudukan, materi dan lain sebagainya.

3.    Ridha
Menerima segala takdir dari Allah SWT dengan senang hati. Ciri-ciri orang yang ridha kepada Allah SWT antara lain tidak pernah menyesali nasibnya sekalipun sangat buruk dan tidak pernah berkeluh-kesah ketika ditimpa musibah.

4.    Mahabbah
Mencintai Allah dalam arti mematuhi segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya dalam keadaan senang maupun duka.

5.    Makrifatullah
Mengenal Allah SWT dengan hati nurani. Jika seseorang sudah mencapai tahap terakhir, maka ia telah menjadi sufi.

Mencapai tingkatan sufi memang tidak gampang. Tahap demi tahap yang harus dilaluinya cukup berat. Oleh karena itu setiap Tarekat yang diakui sah oleh ulama memiliki lima dasar pencapaian tujuan, yaitu:

1.    Menuntut ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan semua perintah Allah SWT.

2.    Mendampingi guru dan teman-teman sesama Tarekat untuk melihat bagaimana cara melakukannya.

3.    Meninggalkan segala rukhsah (keringanan atau kemudahan buat yang tidak mampu memenuhi syarat-rukunnya ibadah karena suatu sebab) dan ta’wil (menafsirkan makna ayat-ayat yang memiliki beberapa pengertian tersembunyi).

4.    Memelihara diri dan memanfaatkan waktu dengan segala zikir, wirid dan doa, guna mempertebal khusyu dan hudur.

5.    Mengekang diri dari segala hawa nafsu negatif agar terhindar dari segala kemaksiatan dan kesalahan.



Sumber Tulisan:
  • Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam; Edisi Senior, Cetakan VIII,  Penebar Salam, Jakarta, September 2000
  • Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat; Kajian Historis tentang Mistik, Cetakan IX, Ramadhani, Solo, 1993
Sumber Ilustrasi:
The Alhambra, di Granada, Spanyol. Elemen seni Islam dengan bentuk pola geometris kaligrafi 
لا إله إلا الله (La ilaha illa Allah).


Wednesday, September 10, 2008

Keunikan Manusia


Manusia diciptakan Tuhan dengan keunikan yang luar biasa.

Menurut hasil penelitian ilmu kedokteran, jika seorang dewasa dengan bobot tubuh rata-rata, maka selama 24 jam ia memiliki kesibukan :

1.    Jantung berdenyut 103.689 kali

2.    Darah menempuh perjalanan 168.000.000 mil

3.    Bernapas sebanyak 23.040 kali

4.    Menghirup udara sebanyak 483 meter kubik

5.    Menelan 1,5 kg makanan

6.    Meminum 3,5 liter cairan

7.    Berkata-kata sebanyak 25.000 kata (termasuk yang tidak perlu diucapkan)

8.    Menggerakkan 750 otot

9.    Kuku terus tumbuh 0,00012 cm

10.    Rambut memanjang 0,94353 cm

11.    Sel otak 7.000.000 banyaknya yang terus bekerja

[Anonymous]

Picture Source: Vitruvian Man, by Leonardo Da Vinci


Saturday, September 6, 2008

Asal-Usul Hollywood


Awalnya, daerah "Hollywood" dirancang untuk jadi suatu model masyarakat yang penduduknya bebas dari minuman keras.

Ditemukan oleh keluarga Wilcox, yang membeli tanah itu di tahun 1887. Suatu ketika, Nyonya Wilcox sedang duduk di kereta api, di sebelah seorang wanita yang mempunyai rumah musim panas dengan nama "Hollywood". Nyonya Wilcox menyukai nama tersebut dan memberi nama "Hollywood" untuk daerahnya.

Selama 20 tahun, "Hollywood" merupakan desa dengan 500 warga dengan masalah yang tidak lebih berat daripada bagaimana menjaga domba mereka untuk tidak berkeliaran di alun-alun desa.

10 tahun kemudian, kira-kira di tahun 1917, "Hollywood" berubah menjadi pusat perfilman nasional untuk dua alasan;

Pertama, cuacanya memungkinkan masa pembuatan film yang panjang.

Kedua, para pembuat film sering kuatir dituntut karena melanggar hak cipta. Karena Hollywood cukup dekat dengan Meksiko, maka mereka bisa menyeberang perbatasan untuk mendapat kekebalan hukum bila diperlukan.

* * * * *

Tanda nama "Hollywood" awalnya ditulis "Hollywoodland", yang merupakan ungkapan iklan untuk perusahaan pembangunan perumahan. Namun, empat huruf di belakang nama itu akhirnya dibuang, dan tulisan "Hollywood" terus terpampang di pinggir bukit tersebut hingga sekarang.
[Anonymous]

Friday, September 5, 2008

Asal-Usul Warna Magenta



Nama warna Magenta berasal dari nama sebuah pertempuran antara tentara Perancis dan Sardinia melawan tentara Austria di tahun 1859. Pertempuran tersebut berlangsung di sebuah tempat yang bernama "Magenta".

Setelah pertempuran usai, warna campuran antara merah dan ungu ditiru oleh para ahli kimia Perancis untuk menggambarkan warna darah yang mengering. Untuk mengenang pertempuran itu, warna ini diberi nama "Magenta".
[Anonymous]