Friday, September 26, 2008

Selamat Idul Fitri 1429 H | Gadget Version




Iseng nggak ada kerjaan, malah bikin kartu ucapan digital Selamat Idul Fitri, ada 2 desain, Blackberry Version sama Mobile Phone Version. Kalo yang versi gobloknya, Miyabi Version, ada di desain sebelom ini. Diliat aja.

Sekalian ngucapin Selamat Idul Fitri 1429 H juga buat temen-temen...

Wednesday, September 24, 2008

UI


Sajak yang populer saat demonstrasi mahasiswa 1998 karya Rizal, cukup bikinku tergidik mendengarnya. Meskiku bukan dari kampus ini, Rizal mampu menggambarkan perguruan tinggi yang kini malu berjuluk "Kampus Perjuangan Orde Baru" dengan sangat kontras. Dikotomi UI dan mahasiswanya dari berbagai komparasi kalangan, notabene justru sulit dicari kelas menengah ke bawah.

UI, kampus yang sempat bikin kuiri, tak bisa kumasuki kampus megah itu dan harus cukup berpuas diri ditempa di salah satu kampus di Jokja. UI dulu, dalam potret yang sangat baik digambarkan oleh Rizal, bisa jadi kinipun tetap juga sama.

Thank's to Rizal yang sudah membuat karya seindah ini.
Izin karyamu kutempelkan di MP-ku.



UI


Ku kutuk kau
di antara lenggak-lenggok pantat
bahenol gadis-gadis kampus
karena di balik kemegahan almamater
mengintip kemasabodohan

Ku cinta kau
karena bisa murah kuliah
dengan fasilitas mewah
diajar guru-guru besar kondang
yang jarang datang

Ku cinta kau jika pagi
di bawah matahari ibu kota
diantar KRL dan bis-bis kampus
10 ribu, 20 ribu mahasiswa bergegas kuliah
seiring amanat 202 juta rakyat
dan ketika angin lembut menyibak rambut dahi
harum deodorant mahasiswi
musnahkan harapan-harapan kemerdekaan

Ku cinta kau kala siang datang
karena sedemikian banyak orang saleh
berkhutbah ke jalan Tuhan
Ketika azan berkumandang
memenuhi kolong-kolong langit kampus
ribuan tafakur di mesjid dan pojok-pojok musholla
Sementara di kantin-kantin
mahasiswa main ceki
sambil diskusi triple X yang ditonton keroyokan tadi malam
Berpuluh-puluh batang rokok
mengusap gincu tebal mahasiswi
asapnya membumbung ke udara
berpadu dengan dzikir dan doa
meluruhkan usaha mulia memperjuangkan perbaikan

Ku cinta kau kala senja
Matahari jingga mengubur makara
Pucuk-pucuk pohon karet tenang
mengiring mahasiswa-mahasiswa yang bergegas pulang

Ku cinta kau ketika malam karam
bintang-bintang cemerlang
cerita-cerita hantu, lolongan anjing liar dan bunyi gaang
tak pernah menakutkan mahasiswa dan mahasiswi
membuat mimpi di atas mimpi
biar puluhan satpam berpatroli
ini malam kita punya

Ku cinta UI
karena kau almamaterku


Rizal
Depok, 9 Maret 1998



Ilustrasi:
Jepretan sendiri tahun 2007 sewaktu bernostalgia 10 tahun lalu, saat menemani pacar yang kini jadi istri menjalani proses wisuda sarjana, Sabtu, 2 Agustus 1997
lalu di kampus ini.

Sunday, September 21, 2008

Selamat Idul Fitri 1429 H | Miyabi Version


NOTE:
Silahkan di-download untuk dikirimkan sebagai kartu ucapan karena memang GPL (General Public License). Namun berkaca dari pengalaman ucapan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1429 H kemarin,ada yang menghapus inisial sumber asli dan menuliskan namanya sendiri di situ sebagai bentuk penganiayaan HAKI.
Mohon tidak dilakukan dan tetap, salam damai!

* * * * *

Diwakili oleh Miyabi a.k.a Maria Ozawa, juga oleh seluruh bintang JAV, Vivid dan artis-artis lain yang pastinya sering di-download temen-temen, mengucapkan:

Selamat Idul Fitri
1 Syawal 1429 H


Semoga kita dapat bertemu lagi dengan bulan Ramadhan tahun berikutnya dengan segala keberkahannya.

Friday, September 19, 2008

Kita cuma Karakter Rekaan



Inilah sejarah manusia, lahir, kawin, lalu mati, dari dulu juga begitu, lahir, kawin lalu mati
sampai tiba seorang gila yang datang dari sebuah negeri yang penduduknya lebih berbudaya
ia mengungkapkan ide bahwa, sejarah manusia bukan cuma lahir, kawin lalu mati!
Kahlil Gibran
* * * * *

* * * * *

Kita semua cuma karakter rekaan, nggak punya hak apa-apa atas badan ini, nggak punya hak apa-apa atas segala waktu yang dijalani. Kita cuma diperintah oleh Sang Pemberi Hidup untuk menjalani kehidupan ini atas dasar harmoni dan keselarasan. Selanjutnya tetap bersiap-siap, satu waktu nanti karakter itu akan diambil lagi oleh Sang Pemilik Kehidupan...


Take time to think...
Gunakan waktu untuk berpikir...
It is source of power
Karena itu merupakan sumber kekuatan

Take time to read...
Gunakan waktu untuk membaca...
It is the foundation of wisdom
Karena itu merupakan dasar menjadi bijaksana

Take time to play...
Gunakan waktu untuk bermain...
It is the secret of staying young
Karena itu merupakan rahasia untuk tetap awet muda

Take time to be aware...
Gunakan waktu untuk mawas diri...
It is the opportunity to help others
Karena itu merupakan kesempatan untuk menolong sesama

Take time to love and beloved...
Gunakan waktu untuk mencintai dan dicintai...
It is the great gift in life
Karena itu merupakan karunia terbesar dalam kehidupan

Take time to laugh...
Gunakan waktu untuk tertawa...
It is the music of the soul
Karena itu merupakan irama jiwa

Take time to be friendly...
Gunakan waktu untuk bersahabat...
It is the road of happiness
Karena itu merupakan jalan kebahagiaan

Take time to dream...
Gunakan waktu untuk bercita-cita...
It is what the future made of
Karena itu merupakan perwujudan dari masa depan


Illustration: The Making of "Puppet" Movie Animation by Patrick Smith

Tuesday, September 16, 2008

Ketemuan orang PERTAMINA Menyelesaikan Larangan Shalat Jumat Sebelumnya



Hari Selasa, 16 September 2008 M
bertepatan dengan 16 Ramadhan 1429 H

Saya dan beberapa teman antv juga ditemani dari Standard Chartered sebagai sesama tenant di gedung Menara Standard Chartered Bank Lt. 29 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950, mengadakan pertemuan dengan sama-sama membawa es batu, ditaruh di kepala, duduk sama tegak dan mengurai simpul masalah bersama.


Intinya hanya ada pada kendala komunikasi yang tak berjalan dengan baik. Sampai semua bisa terurai dengan baik, yang ada hanya senyum dan tali ukhuwah yang makin dieratkan. Tak ada perbedaan itu, semua sama karena pada dasarnya semua sama di hadapan Allah SWT.

Permasalahan yang diurai dalam tali ukhuwah adalah:
  1. Adanya bentuk komunikasi yang tidak berjalan semestinya. Pendekatan persaudaraan sesama muslim yang dilakukan ini justru mendinginkan masalah yang ada.
  2. Larangan Shalat Jumat tersebut adalah inisiatif sekuriti, pihak Pertamina Menara Standard Chartered Bank Lt. 29 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950 juga menyesalkan insiden yang terjadi dan meminta maaf atas kejadian tersebut.
  3. Dari pihak temen-temen non Pertamina juga tidak mempermasalahkan sampai sejauh-jauhnya, lebih diutamakan persaudaraan tadi. Juga dibicarakan mengenai kegiatan keagamaan secara bersama, adapun insiden yang sudah terjadi dimungkinkan untuk tidak terjadi lagi karena justru bisa memecah belah ukhuwah ini sendiri.
  4. Ada pepatah yang bilang, bila ingin mencari teman sekaligus sahabat, buatlah kesal orang tersebut. Kemudian dari kemarahannya, apabila masih bisa bersikap bijak dalam amarah, temani ia, jadikan sahabat, karena itu adalah teman dan sahabat yang sebenarnya yang bisa saling menjaga satu sama lain. Dalam hal ini, Alhamdulillah dan Insya Allah kami menemukan bentuk tersebut di sini.
  5. Yang terpenting adalah emosi yang saling diredam, ego yang tidak terpancing dengan suasana bulan puasa. Dari sini simpul-simpul tersebut dapat diuraikan dengan sebaik-baiknya.
Ya, semoga kejadian ini jadi cerita perjalanan waktu kita menjalani Ukhuwah Islamiyah yang perlu makin dieratkan lagi...


Dari Kiri ke Kanan:
Agung (Pertamina), Mubarrak (Pertamina), Husin (Pertamina), Iwan (Standard Chartered), Luqman (antv), Fuad (antv), Subhan (antv), Manca (antv), Rendy (antv).


Monday, September 15, 2008

Konfirmasi "Air Dingin" atas Larangan Shalat Jumat di PERTAMINA


Terima kasih sebelumnya atas konfirmasi dari temen-temen PERTAMINA atas "air dingin"-nya untuk masalah ini. Masalah yang sebetulnya sangat bisa diselesaikan dengan pemahaman komunikasi yang baik dari keduabelah pihak.

Perlu saya tegaskan di sini, saya tak pernah menggiring opini publik ke arah mendiskreditkan PERTAMINA, silahkan dibaca komentar-komentar saya buat temen-temen yang ikut memberikan opini, lebih saya arahkan pada khusnuzon dalam menyikapi masalah. Pro-kontra yang terjadi lebih pada chains reaction dari sumber masalah yang utama. Saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya rasa sebagai ketergangguan saya dalam menjalankan kehidupan beragama yang seharusnya tak perlu terjadi.

Secara pribadi saya juga harus meminta maaf apabila saya memang keras menyikapi masalah ini, tapi setelah membaca tulisan Mas Priyo dan Mas Hudie, kepala dan dada saya seperti disiram air dingin yang menyejukkan, satu bentuk persaudaraan sesama Muslim yang memang harus kita kuatkan lagi erat-erat.

Juga ketika saya menuliskan izzul Islam wal muslimin (menjunjung tinggi kemuliaan Islam dan umat muslim) atau  rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi dunia), saya hanya mempertanyakan segala perbedaan itu, sekelumit pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada diri kita semua sebagai sesama Muslim.

Berikutnya, saya copy di sini konfirmasi dan klarifikasi "air dingin" dari temen-temen PERTAMINA mengenai insiden Jumat, 12 September 2008 M bertepatan dengan tanggal 12 Ramadhan 1429 H dengan harapan, insiden tersebut sudah tak perlu lagi diperpanjang.

Biar ini jadi catatan perjalanan kita ke depan untuk saling menguatkan Ukhuwah Islamiyah itu sendiri.

Salam hangat untuk temen-temen semua!



priyodjatmiko wrote on Sep 14
Mas, sebagai muslim yang karyawan Pertamina, saya pribadi minta maaf...

kalau saya mengalaminya pasti jengkel juga, atau lebih tepatnya sedih, koq satpam itu pemahamannya dangkal atau picik sekali. Atau mungkin malah dia non muslim, bahkan non muslim pun kadang akan lebih tahu sopan santun.

kalau shalat jumat, tidak ada itu yang namanya kapling-kaplingan, aturan yang datang duluan dialah yang dapat shaf di depan, pahalanya lebih banyak.

di milis kami, postingan anda sudah dibaca, dan tindakan satpam itu disesalkan.

kalo boleh komen, menurut saya dikotomi izzul islam wal muslimin dengan islam rahmatan lil alamin tidak ada, dua-duanya sama dan sebangun, jadi menurut saya tidak pas diarahkan kesitu. Atau diarahkan oleh para komentator bahwa ada Islam perusahaan A, islam perusahaan B.

sebagai sebuah perusahaan tentu hal seperti ini menjadi pelajaran, juga mengganggu upaya perbaikan citra perusahaan, kalo kami sekedar bilang itu hanya oknum, tentu cuma lari dari tanggung jawab, harusnya perusahaan introspeksi, bahwa tindakan satpam tadi menunjukkan upaya meningkatkan citra masih belum dipahami oleh orang-orang yang berada di ujung tombak yang seharusnya menjadi Public relation bagi perusahaan.



hudie wrote today at 2:52 AM
Saya pribadi, yang orang Pertamina juga sangat menyesalkan hal ini. Saya pribadi minta maaf.

Saya sedih membaca tulisan mas Luqman di atas, 3 hal kesedihan yang saya rasakan. Pertama karena Mas Luqman tidak bisa sholat jumat disatu tempat yang jelas-jelas disitu diselenggarakan ibadah Jumat. Baru sekali ini saya mendengarnya, ada penolakan untuk sholat. Tidak hanya itu, ini jelas melukai kebersamaan dan persaudaraan (ukhuwah). Salah satu ke"istimewaan" Islam adalah egaliter (tidak membeda-bedakan) apalagi untuk melaksanakan ibadah. Apalagi kemudian menunggu segolongan "kaum" sementara yang datang duluan di tolak. Secara syar'i hal ini jelas tidak benar.

Kesedihan yang kedua, kejengkelan Mas Luqman, telah memberikan gambaran, bahwa upaya kami di Pertamina untuk melakukan transformasi belum berhasil.
Misalnya Program Pasti Pas, hal ini merupakan upaya kami untuk mengembangkan nilai-nilai Perusahaan. Diantaranya Clean (tidak hanya clean dalam melakukan kegiatan bisnis, termasuk di dalamnya juga dalam berperilaku), Customer Focused (kami ingin agar selalu berorientasi pada pelanggan, dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan) ternyata hal ini belum terlaksana dengan baik. Padahal moto kami Always there (selalu melayani).

Kesedihan ketiga, bahwa gambaran “perbuatan perseorangan”, bagaimanapun akan mencitrakan dan mewakili seluruh komunitas yang dia berada di dalamnya. Jadi apa yang dilakukan “ security” terebut memberikan impressi bahwa Pertamina dan orang-orangnya memang dmeikian. Hal ini tergambar dengan jelas dari ungkapan-ungkapan Mas Luqman. Mudah-mudahan Mas Lukman bisa me "lokalisir" nya, hanya di tempat itu saja. Karena tempat-tempat lain tidak demikian. Sholat jumat di masjid masjid Pertamina baik di ujung Sumatera, di Jawa, bali, Sulawesi, Papua dan di seantero Indonesia yang jumlahnya ratusan masjid, dipenuhi oleh warga sekitar, dan dengan ramah kami menerimanya sebagai satu bagian Islam.

Bukan berarti perbuatan di Jl Satrio itu benar, (saya akan mencari tahu kepada kawan-kawan disana sebenarnya seperti apa penyelenggaraan sholat jumatnya), namun kami secara keseluruhan, yang jumlahnya 16.000 pegawai pertamina ditambah keluarga kami, baik di kota maupun di pelosok-pelosok Indonesia, dalam berkomunitas tidaklah demikian. Kami membuka diri dan senantiasa bersama-sama lingkungan sekitar. Seperti misalnya di Balikpapan, justeru Masjid “Pertamina” dijadikan Icon kota balikpapan, kegiatan-kegiatan keagamaan Kota Balikpapan, dilaksanakan disini, apa lagi sholat Jumat. Ini hanya satu contoh saja.

Kesedihan yang ketiga, betapa berat tugas kami, orang-orang Pertamina, dalam memberikan sumbangsih kami kepada bangsa, rakyat dan negara, sementara banyak stigma-stigma negatif yang muncul disekitar kami.

BTW. yang terjadi di Satrio itu, sesuatu yang mestinya tidak terjadi. Mudah-mudahan di internal kami segera menyelesaikannya. Saya sekali lagi minta maaf. Selamat shauum, semoga tercapai taqwa.

Wassalam
Hudi Darminto



hudie wrote today at 4:51 AM
---Mas Luqman, ini ada pernyataan dari Manajer Humas Pertamina EP :

..........., kami telah konfirmasi hal ini dengan Security dan BDI EP, sebenarnya tidak ada larangan untuk sholat jumat di tempat kita. Perlu kami sampaikan bahwa telah terjadi mis komunikasi karena memang tempat yang kita sewa untuk sholat jumat ini sangat terbatas besar ruangannya, bahkan sebagian karyawan Pertamina sendiri juga harus jumatan di luar. Hal ini mungkin yang menjadi dasar teman-teman Security memproritaskan karyawan Pertamina. Tidak ada pembedaan aliran, tetapi memang karena gedung tersebut menggunakan Sucurity Card, maka yang bisa meng access ke Lt 29 hanya karyawan Pertamina, seperti hal nya kita juga tidak bisa meng access lantai lain (punya standard chartered, TV One, atau AnTv) selain 21-29. Terima kasih dan saya sudah sampaikan hal ini ke Security untuk tidak melarang mereka yang sudah masuk ke Lt 21.........




Thursday, September 11, 2008

Terima Kasih PERTAMINA, Kami Dilarang Shalat Jumat di Tempat Anda!


YA... Terima kasih untuk PERTAMINA di Menara Standard Chartered Bank Lt. 29 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950, kami dilarang Shalat Jumat di tempat anda...


Hari Jumat di bulan Puasa
12 September 2008 M atau 12 Ramadhan 1429 H
Jam 11:45 WIB

Awalnya saya dan beberapa teman antv, tvOne juga kanalOne hendak ke Lt. 29 di Menara Standard Chartered, dengar-dengar di situ ada yang menyelenggarakan Shalat Jumat. Kami ke lantai itu satu lift bersama dengan karyawan Pertamina yang juga akan shalat Jumat di sana.

Begitu sampai di situ, karyawan Pertamina langsung masuk ke sebuah ruangan besar yang memang disulap untuk jadi tempat Shalat Jumat. Tapi begitu sekuriti Pertamina melihat saya yang berjalan paling depan di antara teman-teman saya, ID Card saya yang terpampang jelas terbaca olehnya, langsung dihadang dengan tangan seperti gembala yang sedang menghalau ternaknya;

"Maaf! Yang dari antv, yang bukan dari Pertamina, shalat Jumatnya nanti dulu setelah terisi penuh oleh orang-orang Pertamina! Silahkan tunggu dulu di luar!"

Berbicara dengan nada yang kasar, seolah kami bukan Islam dan berbeda agama dengan orang-orang Pertamina. Karyawan Pertamina yang satu lift dengan kami juga tak membela apa-apa, cuma melirik, melihat, lalu melengos. Sungguh terasa kami seperti bukan satu Islam dengan mereka. Emosi menggelegak di kepala, saya balas omongannya dengan kasar;

"Baik! Makasih Mas! Kita memang beda agama! Tuhan kita beda! Wajar kalo kita nggak boleh shalat di sini!"

* * * * *

Itu pikiran saya yang masih diliputi emosi. Begitu turun ke lantai bawah, kami pergi ke masjid dekat Menara Standard Chartered Bank, saya jadi terpikir banyak hal tentang Islam Eksklusif. Sangat wajar apabila Pertamina yang mempunyai space ruang yang cukup besar untuk dijadikan tempat Shalat Jumat, akhirnya lebih memilih mengutamakan semua karyawannya untuk Shalat Jumat bersama ketimbang orang lain, karyawan lain yang justru ingin Shalat Jumat bersama di situ.

Entah kaedah Ukhuwah Islamiyah macam mana yang mau diartikan, tapi ini persis seperti kategori makro gerakan izzul Islam wal muslimin (menjunjung tinggi kemuliaan Islam dan umat muslim) ketimbang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi dunia).

Izzul Islam menganggap bahwa Islam diturunkan untuk meluhurkan martabat manusia dalam hal ini eksklusif hanya islam dan kaum muslim saja. Kalo kita kaji dari Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, misalnya saja seperti gerakan DDII, LDII, FPI, MMI, HTI, maupun Persis. Semua yang tak sesuai aturannya dianggap tak sejalan. Pola pemikirannya lebih ke arah eksklusifisme Islam dalam konteks kelompoknya sendiri.

Rahmatan lil 'alamin menganggap bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat seluruh umat manusia di dunia. Ada dan lahirnya Islam adalah untuk bersosialisasi, bermasyarakat, tak hanya yang satu agama Islam saja, namun dengan semua agama. Kalo kita kaji dari Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, misalnya saja seperti NU, Muhammadiyah, Perti, Nahdlatul Wathan, al-Khairat, al-Washilah dan sebagainya. Islam dianggap sebagai gerakan inklusif, di mana segala perbedaan adalah sebagai rahmat menurut Hadist Nabi.

* * * * *

Apapun adanya, Pertamina yang melarang kami Shalat Jumat di lingkungannya, benar-benar meyakinkan saya akan slogannya, "Pertamina Pasti Pas", di mana Shalat Jumat juga harus pas diisi oleh orang-orang dan karyawannya saja ketimbang kami orang lain yang juga sama-sama muslim. Kalo diisi oleh kami yang bukan karyawan Pertamina, meski sama-sama muslim, slogan itu harus diganti karena memang tidak pas...

Apa kami memang bukan muslim yang seperti mereka?

Jadi kami dilarang untuk Shalat Jumat di sana?

Ah! Capek deeehhh... Bulan puasa su'udzon melulu!

Yang pasti saya ucapkan berkali-kali...

Terima kasih untuk PERTAMINA di Menara Standard Chartered Bank Lt. 29 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950, kami dilarang Shalat Jumat di tempat anda...


NOTE:
Saya sangat berharap blog ini bisa dibaca oleh orang Pertamina dan memberikan komentar atau klarifikasinya terhadap kejadian ini.