Saturday, October 22, 2011

Steve Jobs Keturunan Muslim dari Arab-Syria


Ini yang sering diomongin temen-temen tentang Steve Jobs, pendiri Apple nan legendaris karena mengubah dunia menjadi lebih baik dengan proyek komputer yang bisa dipakai di rumah-rumah. Bila dulu komputer hanya diperuntukkan untuk industri, lewat revolusi Steve Jobs komputer bisa ada di rumah-rumah.

Steve Jobs keturunan Muslim dari keluarga Arab-Syria?

* * * * *

Tahun 1999, dirilis film Pirate of Silicon Valley, sebuah film yang bercerita tentang revolusi Teknologi Informasi menceritakan tentang perjalanan Steve Jobs dan Steve Wozniak dengan Apple-nya. Tak ketinggalan menceritakan bagaimana Bill Gates bisa mengubah dunia dengan program Operating System Microsoft-nya. Semua bermula dari garasi, sebuah bisnis besar yang dimulai dari garasi rumah.

Di film itu diceritakan bagaimana Steve Jobs yang galau karena ia hanya jadi anak pungut dari keluarga Paul Jobs dan Clara. Steve Wozniak sahabatnya yang banyak membantu akan kegalauan ini. Hanya itu yang diceritakan dan tak tak diperinci karena memang bukan film tentang biografi Steve Jobs.

Namun setelah kematiannya Rabu, 5 Oktober 2011 lalu, banyak yang penasaran dengan kisah hidup Steve Jobs, terutama ia sebagai tokoh revolusioner di bidang Teknologi Informasi. Fakta-fakta yang diungkap di film Pyrate of Silicon Valley dibongkar ulang dan ditelusur lebih lanjut, didapati data-data yang mencengangkan yang selama ini tertutupi.

Steve Jobs kelahiran San Fransisco, 24 Februari 1955, tak pernah tahu siapa bapak dan ibu biologisnya karena langsung diadopsi oleh pasangan Paul Jobs dan Clara, bapak angkatnya yang bekerja di perusahaan laser dan ibu yang bekerja sebagai akuntan.

Mona Simpson, adik biologis Steve Jobs
Tahun-tahun berlalu dan akhirnya Steve Jobs menemukan fakta bahwa ibu kandungnya bernama Joanne Simpson dan ia punya saudara perempuan bernama Mona Simpson, seorang penulis novel ternama di Amerika yang ia ketahui justru saat ia tengah merintis Apple menjadi perusahaan besar.

Ia pun akhirnya mengetahui bahwa bapak biologisnya bernama Abdul Fattah Jandali, seorang muslim keturunan Arab-Syria yang meninggalkan Joanne Simpson, mahasiswa pascasarjana ilmu patologi ketika hamil.

Ya, Steve Jobs adalah anak yang lahir di luar hubungan pernikahan.

Sebab tidak bertanggung jawabnya Abdul Fattah Jandali ini juga yang membuat hubungan ayah dan anak jadi tak baik. Steve Jobs tetap melanjutkan hidupnya dan begitu juga dengan ayah biologisnya.

Reuters pernah mewawancarai Abdul Fattah Jandali dan ia menyatakan penyesalannya di masa lalu namun tetap bangga memiliki anak seperti Steve Jobs, anak yang tak pernah dibesarkannya namun bisa mengubah dunia menjadi lebih baik seperti sekarang ini.

Orang tua biologis Steve Jobs, Abdul Fattah Jandali dan Joanne Simpson
Meski Steve Jobs adalah keturunan dari Abdul Fattah Jandali ayahnya yang keturunan Arab-Syria, namun Steve Jobs sendiri penganut ajaran Budha Zen, mencari ketenangan dengan memeluk agama tersebut hingga akhir hayatnya.

Sekarang yang jadi masalah, penting nggak kalo diomongin besar-besar bila Steve Jobs keturunan muslim dari keluarga Arab-Syria? Cuma sekedar bangga semu belaka?

Nggak penting deh, toh ini cuma sekedar cerita sambil lalu buat kita tahu sama-sama...

Kalo nggak percaya tulisan ini, silahkan googling "Abdul Fattah Jandali", cari tahu kalo ternyata dia bapak biologis Steve Jobs keturunan Arab-Syria.


Tuesday, September 6, 2011

Teater Mimpi


Bila bisnis hiburan tidak menerapkan manajemen yang baik, bisa berakibat kebangkrutan seperti yang dialami oleh John Harris dan Alan Weber, pemilik 812 Cinema yang dikenal dengan nama Dream Theater (Teater Mimpi).

Dream Theater yang ini adalah sebuah gedung bioskop kecil di daerah Monterey, California, Amerika Serikat. Pembangunan dimulai tahun 1974 dan dibuka untuk umum di bulan Juli 1975, terletak di sudut Prescott dan Lighthouse dengan alamat 301 Prescott Ave, Monterey, CA 93940.

Namun sayang, karena kesulitan pendanaan, di tahun 2000 gedung ini dibongkar, 812 Cinema dan Dream Theater ditutup untuk umum. Beberapa orang yang merasakan nostalgia akan gedung bioskop ini, membuat akun di facebook untuk mengenangnya.

* * * * *


(dari kiri ke kanan) John Ro Myung, Michael Stephen Portnoy, dan John Peter Petrucci di tahun 1985.
Tahun 1985, tiga orang anak muda bernama Michael Stephen Portnoy, John Peter Petrucci dan John Ro Myung, mahasiswa Berklee College of Music sedang gemar-gemarnya ngeband untuk tugas-tugas kuliah. Mereka kerap memainkan lagu-lagu Rush dan Iron Maiden, musikalisasi yang tergolong rumit untuk dimainkan.

Portnoy, Petrucci dan Myung berada dalam band yang belum bernama. Setahun kemudian di tahun 1986, ayah Portnoy, memberikan usulan nama Dream Theater, tempat di mana Portnoy kecil sering diajak menonton bioskop ketika mereka masih tinggal di Monterey, California.

Dream Theater, band yang dibentuk di Massachusetts, bertahan lama dan besar hingga sekarang.

* * * * *

Musik Dream Theater beraliran rock progressive, tergolong musik yang rumit dan sulit untuk ditiru karena musisinya lebih mengandalkan skill bermusik. Bagi penggemar musik Jazz yang suka dengan banyaknya improvisasi-improvisasi nada di tengah musik, Dream Theater juga melakukannya. Bedanya ciri khas yang ditampilkan di sini lebih ciri musik rock pada umumnya. Karakteristik dengan irama tegas, raungan distorsi gitar, dengungan bas yang kuat, dentuman drum yang keras dan bertenaga serta irama dengan tempo yang cepat nan menggelegar.


Saya mulai menyukai band ini sejak SMA, ketika membeli album kedua mereka, Images and Words (1992). Salah satu lagu yang saya suka itu Another Day, bercerita tentang bagaimana kita menjalani kehidupan, mencari alasan untuk tetap bertahan hidup dengan melewati hari demi hari. Lagu-lagu mereka memang berisi tentang filsafat dan kontemplasi kehidupan, dari pertanyaan besar tentang apa itu hidup dan kehidupan hingga semangat yang menyertainya.

Salah satu lagunya yang pernah menyemangati saya itu The Spirits Carries on, ada di album Metropolis Pt.2 Scenes From A Memory (1999). Cerita tentang kehidupan yang terus berjalan dengan segala pertanyaan yang tak terjawab hingga kita meninggal kelak dan dilupakan orang. Namun semangat itu yang tetap harus ada, semangat itu yang tak boleh hilang.

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

 
The Spirits Carries on, lagu ini juga yang menjadi salah satu acara Roadrunner Record awal tahun 2011 ketika mereka mencari pengganti Mike Portnoy, drummer mereka yang keluar lewat audisi untuk Dream Theater. Portnoy keluar karena memproduseri band Avenged Sevenfold bahkan mengisi drum di sana sebagai additional player. Personil Dream Theater lainnya jelas kehilangan karena Portnoy merupakan drummer handal yang sulit dicari gantinya. Hingga akhirnya dapat juga penggantinya, Mike Mangini, mantan drummer band Extreme, teman kuliah mereka yang kini menjadi profesor di almamaternya, Berklee College of Music.

Dream Theater, band dengan musisi-musisinya segudang prestasi.

dari kiri ke kanan) Mike Mangini (drum), John Myung (bas), James LaBrie (vokal), Jordan Rudess (keyboard), John Petrucci (gitar)
John Myung menggunakan bas yang tak lazim, bas dengan enam senar, ia pun beberapa kali dinobatkan sebagai basis terbaik sepanjang masa oleh beberapa asosiasi industri musik dunia. John Petrucci juga sama, menggunakan gitar Ibanez tujuh senar dan sering mendapat penghargaan sebagai gitaris dan shredder terbaik dunia. Mike Portnoy tak usah ditanya, bila drummer kebanyakan menggunakan dobel bas, dia memakai triple bas dengan beragam perkusi rumit dijejerkan di antara tom-tom drumnya. Tak heran bila Dream Theater kesulitan mencari pengganti Portnoy, namun dengan kedatangan Mike Mangini, energi musik Dream Theater tetap hidup dan sama seperti dulu.

Dream Theater, Teater Mimpi yang menceritakan tentang filsafat kehidupan dalam musikalisasi yang sangat baik dan berkualitas, jauh dari musik asal-asalan yang sekedar mengikuti selera pasar.



Foto-foto diambil dari dreamtheater.net dan internet, video diambil dari youtube


Sunday, August 28, 2011

Catatan Kecil tentang Islam Indonesia



PERINGATAN KERAS! TULISAN INI BUKAN CERAMAH AGAMA!




12,9% penduduk bumi yang beragama Islam ada di Indonesia1, hal yang juga yang membuat negara ini menjadi tempat populasi terbesar penganut ajaran Nabi Muhammad SAW dari seluruh dunia.

Timbul pertanyaan; apabila Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak beragama Islam, apakah negara ini merupakan negara Islam?

Bongkar lagi pelajaran sejarah saat masih sekolah dulu, bagaimana kemerdekaan ini didirikan oleh para pendiri bangsa. Dalam elemen pertama Pancasila ketika dirumuskan oleh panitia sembilan tanggal 22 Juni 1945, hasilnya yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta, pada bagian tulisan susunan negara yang berkedaulatan rakyat, elemen pertamanya ditulis berdasar pada;

"Ke-Toehanan dengan kewadjiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja"

Ini merupakan hasil kesepakatan para pendiri bangsa yang tergabung dalam panitia 9 yang diketuai oleh Soekarno dengan anggota Moehammad Hatta, Moehammad Jamin, Alexander Andries Maramis, Achmad Subardjo, Wachid Hasjim, Kahar Muzakkir, Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso.

Sampai akhirnya ketika Indonesia merdeka, di hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945, kalimat itu dipersingkat menjadi;

"Ke-Toehanan Jang Maha Esa"

Kalimat itu dipersingkat atas dasar usulan Ketua PP Muhammadiyah periode 1942-1953, Ki Bagoes Hadikoesoemo yang berpendapat bahwa negara Indonesia bukan diperjuangkan oleh orang-orang Islam saja, tapi oleh semua kalangan, oleh semua golongan yang juga bukan beragama Islam.

Jelas, berdasarkan sejarah pendirian negara ini, Indonesia bukanlah negara Islam.


Kedatangan Islam di Indonesia

Islam adalah agama yang menganut keyakinan monotheisme, mengakui hanya ada satu Tuhan yaitu Allah dengan berpedoman pada Al-Qur'an, wahyu Illahi yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW dan Al-Hadits, perkataan dan perbuatan dari Nabi Muhammad SAW yang disarikan oleh para alim ulama terdahulu yang terlebih dahulu diujikan kebenarannya apakah benar datang dari perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW atau hanya sekedar bohong belaka. Adapun Al-Hadits sendiri memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum di bawah Al-Qur'an.

Islam menyebar ke seluruh penjuru bumi, juga masuk ke Indonesia dengan berbagai macam catatan sejarah yang berbeda. Menurut Abu al-Hasan Ali ibn al-Husayn al-Mas'udi (896-956), sejarawan dan ahli geografi asal Mesir, ia menyatakan bahwa sejak tahun 675 M ada utusan Arab di masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan yang berkunjung ke Kerajaan Kalingga dengan lokasi kerajaan di antara Pekalongan dan Jepara. Al-Mas'udi juga menyatakan bahwa sejak tahun 648 Masehi, ditemukan adanya koloni Arab muslim di pantai timur Sumatra2.

Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia lewat pedagang Gujarat sekitar abad ke-12 Masehi, namun teori ini dibantah karena para pedagang Gujarat ini beraliran Syiah sementara Islam Indonesia lebih pada aliran Sunni dengan Mazhab Syafi'i.

Pendapat ini simpang-siur, hingga HAMKA mencoba menjembatani dasar pernyataan tadi dengan merujuk pada tarikh-tarikh sejarah yang ada ditambah dengan prasasti-prasasti yang mencatat adanya perkembangan Islam di Indonesia, ia merujuk pada naskah kuno Tiongkok yang menyatakan bahwa kelompok bangsa Arab telah bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus) yang nantinya akan menjadi kerajaan Sriwijaya3.


Besar tapi Bodoh

Seperti halnya Unta, besar di Arab tapi tak bisa berbahasa Arab, inilah Indonesia. Negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam, namun belum bisa mencerminkan perilaku orang Islam. Okelah, bila kita mengacu pada dasar negara yang dibuat oleh para pendiri bangsa bahwa negeri ini bukanlah negara Islam, namun setidaknya bila 85,2% penduduk negeri ini beragama Islam, sudah sewajarnya pola-pola Islami yang ditampilkan, meski tidak harus mengklaim atau bahkan menyamaratakan semuanya harus Islam.

Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah ajaran tentang keindahan, hal yang mengenai estetika kehidupan, Berkaca pada toleransi beragama yang diajarkan Nabi Muhammad SAW lewat Piagam Madinah, semua bisa hidup aman, damai dan tentram dalam segala perbedaan. Toh jelas-jelas disebutkan dalam Al-Qur'an;

لَآ إِكۡرَاهَ فِى ٱلدِّينِ‌ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَىِّ‌ۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا‌ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan dalam beragama Islam. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut (tuhan selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui."
(Q.S. Al Baqarah: 256)

Tak ada paksaan, tak ada kekerasan. Tafsir dari surah Al Baqarah: 256 ini, Ibn Jarir at-Thabari mengeluarkan riwayat melalui jalur Sa‘id atau ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas yang menyatakan bahwa ayat ini diturunkan kepada lelaki Anshar Bani Salim bin ‘Awf; ada yang menyebutnya al-Hushayn. Ia memiliki dua anak lelaki Nasrani, sementara dia sendiri Muslim.

Ia lalu bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, "Tidak perlukah aku memaksa mereka berdua, karena mereka telah enggan kecuali tetap memeluk Nasrani?" Kemudian, dalam hal ini Allah menurunkan ayat tersebut melalui Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaannya, apakah perlu mengislamkan seluruh rakyat Indonesia atau malah membuat konstitusi negara ini berdasarkan atas azas Islam?

Oleh karena itu beberapa kelompok dan golongan yang ingin mengembalikan Piagam Jakarta menjadi dasar negara sepertinya bukan hal yang bijak, mengingat perjuangan bangsa ini bukan sepenuhnya didasarkan atas keinginan mendirikan negara Islam, melainkan membuatnya jadi bangsa yang mandiri dan penuh toleransi. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW lewat Piagam Madinah.

Jadi, tak perlulah rasanya membakar warung-warung yang buka ketika Ramadhan, memukul orang-orang yang tak berpuasa di jalanan, menghakimi jiwa-jiwa yang masih labil dan bingung dengan kehidupan di masa sekarang. Yang terpenting, tak perlulah membuat segala bentuk kekerasan yang rasanya jauh dari ajaran Islam demi mengkultuskan bulan Ramadhan dan ingin dihormati ketika berpuasa. Riya sekali rasanya, beribadah karena ingin dipuji, dihormati.

Ramadhan tinggal 1 hari lagi. Semoga Idul Fitri besok jadi hal yang baru dalam memandang Islam sebagai agama pembawa damai dan kesejukan.

Selamat Idul Fitri 1432 H


Sumber gambar: productiveramadan.com

Catatan Kaki:
1 CIA World Factbook 2007, "Indonesia: International Religious Freedom Report 2007"
2 Buku "Murūj adz-dhahab wa ma al-ʿ Adin Jawahir (The Meadows of Gold and the Mines of Gems) ditulis oleh Abu al-Hasan Ali ibn al-Husayn al-Mas'udi tahun 947 M.
3 Buku "Sejarah Ummat Islam", ditulis oleh Prof. Dr. HAMKA jilid 1 sampai 4, tahun 1938 s.d. 1950

Friday, April 8, 2011

美少年 | Bishōnen, alias Pretty Boy


美少年 (bishōnen) berasal dari kata 美人 (bijin) dan 少年 (shōnen) yang secara harfiah berarti anak laki-laki yang cantik (pretty boy). Istilah ini mengacu pada 歌舞伎 (Kabuki) alias teater tradisional khas Jepang dengan dandanan mencolok, menggunakan make up dan kostum panggung yang serba rumit.

Kabuki pertama kali dipopulerkan tahun 1603 lewat dramatari di kuil Kitano Temmangu, Kyoto. Menggambarkan Okuni, karakter perempuan namun berdandan ala laki-laki, bertingkah laku tidak wajar, jauh dari perempuan.

Wajarlah namanya juga teater, seni peran, unsur lebay nan kental ini justru menghibur masyarakat Jepang saat itu, pun sampai sekarang.

Waktu bergulir dan jaman berganti, di tahun 1970-an awal muncul fenomena glam yang merupakan kependekan dari glamour di industri musik, dipelopori oleh musisi Inggris seperti David Bowie, Marc Bolan, dan beberapa musisi lainnya.

Akar penampilan dari glam music memang mengambil fenomena Kabuki. Berkembang pesat hingga timbul aliran dalam musik rock yang sama sekali tidak berhubungan dengan jenis musik yang dimainkan, aliran yang mengacu pada penampilan musisinya yang serba cemong bedak dan lipstik pun kostum aneh ala perempuan, yakni glamrock. Musisi-musisi glamrock kelewat banyak di dekade tahun 80-an hingga 90-an awal, yang paling terkenal adalah Kiss, Twisted Sister, Mötley Crüe, juga Poison.

Sering para fans pemula bingung dan bertanya, mereka ini laki-laki atau perempuan? Pun pertanyaan mereka banci atau bukan sering tercetus.

Itu juga yang terjadi di Jepang, fenomena kabuki diangkat, hanya saja bentuknya mengikuti tematik anime atau kartun/komik khas Jepang.

* * * * *

ヒザキ (Hizaki), gitaris dari band Versailles Philharmonic Quintet asal Jepang ini benar-benar menarik perhatian saya untuk mencari tahu setelah saya tertipu.

Ada perempuan cantik jago bermain gitar, ternyata laki-laki... Halah!

Itulah Hizaki, lahir di tempat yang sama dengan tempat kelahiran Kabuki di Kyoto, Jepang, 17 Februari 1979. Data di internet sulit ditelusur kenapa ia mau berdandan ala perempuan di band-nya.

Foto di atas diambil saat ia belum begitu terkenal seperti sekarang dengan bandnya, Versailles Philharmonic Quintet. Setelah bandnya melejit dengan tampilan yang aneh dan unik serta musik mereka yang memang bagus, Hizaki tampil sudah seperti perempuan meski tanpa make up, seperti gambar di samping ini dengan rambutnya yang dicat pirang.

Transgender?

Nggak ngerti, nama aslinya pun tak diketahui, biodata personil band mereka yang dijaga rapi oleh manajemen mereka membuat saya kesulitan menelusurnya.

Versailles Philharmonic Quintet mengacu pada konsep ヴィジュアル系 (baca: kei vijuaru atau visual kei alias visual style), berdandan ala anime untuk kepentingan industri musik.

Semua personil dapat perannya masing-masing sesuai tokoh kartun/komik Jepang, konsep yang diusung mengacu pada Eropa abad pertengahan. Hizaki sendiri berdandan ala perempuan terinsipirasi dari cerita komik 学校の怪談, (baca: Gakkō no Kaidan alias Ghost Stories).

Pertanyaannya kenapa harus perempuan?

Banci apa bukan sih, ini orang?

Ah, nggak ngerti, lagi-lagi pertanyaan yang bikin pusing dan susah dijawab. Tapi memang semua band-band visual kei itu selalu menampilkan diri mereka bak tokoh anime, baik itu tokoh yang perempuan atau tokoh yang laki-laki. Suka-suka mereka memang...

Tapi melihat foto-foto begini, siapa yang menyangka bila ini bukan perempuan dan belum jadi perempuan? Ini juga bukan waria-waria Thailand yang cantiknya mengalahkan perempuan betulan, ini laki-laki (entah tulen atau bukan) yang berdandan untuk keperluan industri musik.

* * * * *

Sudahlah nggak usah dipikirin, ntar malah jadi gila pula...

Banyak fans pemula mereka yang sakit jiwa, yang laki-laki jadi homo dan yang perempuan jadi lesbian begitu tau Hizaki ternyata bukan perempuan melainkan laki-laki.

Buat penutup, ini ada video saat mereka live, judulnya "Aristocrat Shympony". Bersih banget permainannya, nggak ada distorsi nada pun suara, nggak jauh beda sama rekamannya sendiri.



Foto dan gambar serta film dari internet.

Klik foto untuk memperbesar, bukan diemut...


Saturday, November 27, 2010

Trigonometri dalam Menggambar


Ada yang masih inget rumus Sinus, Cosinus dan Tangen?

Kalo nggak inget masih bisa dimaklumi, bisa jadi di kehidupan sekarang ilmu ini nggak kepake sama temen-temen. Buat anak-anak SMA yang jelas belajar matematika, kalo sampe nggak inget ya kebangetan. Ini juga yang bikin gw ngelus dada ngeliat adek-adek kelas di SMA yang masih pada sekolah dan jaraknya jauh banget belasan tahun sama gw, tapi bisa-bisanya nggak inget sama pelajaran kelas 10 atau kelas 1 SMA.

Ini namanya parah!

Sabtu pagi (27/11/10) saat ngajar ekskul kartun dan karikatur di SMA 86, gw minta adek-adek kelas di SMA 86 yang ikut ekskul ini ngisi daftar tabel Sinus, Cosinus, dan Tangen dari sudut-sudut istimewa, nggak ada yang bisa jawab. Sampe akhirnya gw bikin sayembara, yang bisa ngisi tabel ini dengan lengkap, gw kasih duwit 100 ribu rupiah!

Syaratnya nggak boleh dalam hitungan desimal karena bisa aja dicari lewat kalkulator, tapi isiannya harus dalam angka matematis.


Langsung deh pada semangat, tapi sayang ngisinya nggak lengkap dan banyak yang bolong, bahkan ada yang nggak ngisi sama sekali. Alasannya sepele, lupa. Lah, ini dipelajari di kelas 10 kok ya bisa lupa. Bahkan ada anak kelas 10 yang baru kemaren belajar aja sampe nggak ngerti.

Duh...

Saat gw tulis di papan tulis, ini dia jawabannya...


Ada yang nanya, "Buat apa sih Kak, belajar ngartun aja kok pake harus tau trigonometri?"

Gw ketawa dan ngomong ke mereka saat pertemuan kemaren yang minta ngitung tinggi bangunan gedung sekolah pake batang korek api dan nggak ada yang bisa jawab. Bahkan parahnya dihitung mentah-mentah  pake ukuran batang korek api, lalu saat mulai beranjak ke tingkat bangunan, mereka nyerah karena nggak ada tangga yang setinggi bangunan sekolah buat mereka ukur sampe ke atas (cerita lengkapnya ada di sini: Cerita Tentang Belajar Mengajar).

"Siapa yang nanti lulus SMA mau kuliah di UI, ITB atau UGM?"

Semua tunjuk tangan, tapi gw bilang lagi kalo cara berpikirnya masih nyepelein ilmu, bisa aja kuliah di sana lewat jalur khusus yang bayarnya puluhan juta. Susah kalo ngarepin kuliah di sana lewat jalur tes normal. Dasar mentalnya aja yang ampun-ampunan dan harus digojlok lagi lebih keras, masih aja nyari alasan dan ngeluh, pake bilang kalo cara ngajar guru di sekolah nggak asik, jadinya males buat belajar serius.

Duh, kok jadi parah begini sih...

Gw bilang ke mereka bahwa belajar kartun dan karikatur itu hal teknis yang gampang dipelajari, semua orang kalo mau belajar juga bisa, masalahnya pola berpikir kreatif, inovatif dan solutif itu yang nggak gampang numbuhinnya. Kalo udah punya pola pikir begini, mau belajar apa aja gampang!

Ditanya lagi, gimana caranya?

Temuin keasikannya!

Itu jawaban gw, sembari ngejelasin ke mereka kenapa trigonometri itu asik kalo mau dipelajari, seasik belajar kartun dan karikatur. Cari tau dalam bentukan penasaran (curiosity), kenapa trigonometri sampe jadi ilmu tersendiri dalam aplikasi mengukur sudut dan bidang bentuk segitiga. Yang paling penting, cari tau buat apa kegunaannya ilmu ini. Percuma belajar sesuatu kalo nggak bisa digunain atau diaplikasiin.

Dan gw pun mendongengkan kisah, awal mulanya trigonometri itu ada...

* * * * *

Trigonometri, asal katanya dari bahasa Yunani, 'trigonon' (tiga sudut) dan 'metron' (mengukur). Sulit ditelusur siapa yang pertama kali mengklaim penemu ilmu ini, yang pasti ilmu ini sudah ada sejak jaman Mesir dan Babilonia 3000 tahun lampau.

Ilmuwan Yunani di masa Helenistik, Hipparchus (190 SM – 120 SM) diyakini adalah orang yang pertama kali menemukan teori tentang tigonometri dari keingintahuannya akan dunia. Adapun rumusan sinus, cosinus juga tangen diformulasikan oleh Surya Siddhanta, ilmuwan India yang dipercaya hidup sekitar abad 3 SM. Selebihnya teori tentang Trigonometri disempurnakan oleh ilmuwan-ilmuwan lain di jaman berikutnya.

Trigonometri dipakai untuk penghitungan astronomi dan navigasi, menghitung jarak planet dan bintang terdekat, menentukan sistem navigasi satelit, analisa pasar modal, bahkan seni rupa dan desain.

Ditanyain lagi atas dasar penasaran mereka, emang ada bentuk trigonometri di seni rupa juga desain?

Lagi-lagi gw ketawa. Gw jelasin bahwa pola pikir komputer menterjemahkan keinginan kita menggambar dengan cara 3 dimensi, di dalam jeroan komputer itu ada sistematika komputasi yang pake metode segala unsur matematika, nggak cuma trigonometri yang ngukur bentukan sudut-sudut bidang yang ada, bahkan yang paling umum sumbu axis XYZ yang dipelajari di pelajaran aljabar (algebra) ini yang paling umum.

Nggak percaya?

Gw kasih unjuk gambar 3 dimensi yang dibikin di software 3D, gambar yang masih draft dalam bentuk wireframe-nya juga gambar jadinya.

Aplikasi matematika ini dipake banget dalam seni rupa juga desain, terutama bagi para pembuat game, animator 3D, pun arsitek, mereka memang sangat dimudahkan dengan komputer saat proses pengerjaannya.

Seandainya komputer grafis berwujud manusia, pastinya sangat cerdas dan pinter banget, bisa menghitung rumus dalam waktu cepat, menerjemahkan apa-apa yang kita mau dalam proses penggambaran 3 dimensi model orang, karakter benda, bangunan, atau apa aja.

Lagi-lagi, belajar teknis itu sangat mudah, mempelajari konsepnya itu yang susah. Mengetahui bahwa ilmu diciptakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan manusia, bukan mempersulit atau malah bikin bingung manusia lainnya.

Gw pun nambahin cerita tentang teori menggambar perspektif yang awal mulanya diajarin sama Leonardo Da Vinci, penggambarannya jelas nggak ngasal dan ada aturan bakunya.

Meski memang aturan dalam menggambar jelas membelenggu dan pastinya akan ditabrak-tabrak oleh beberapa seniman yang muak dengan aturan menggambar. Tapi tetep pengetahuan mengenai dasar-dasar teori begini baiknya diketahui juga.

Di akhir waktu, gw nulis satu quote di papan tulis buat dipikirin bareng-bareng...


"Setiap ilmu dimulai dengan filsafat dan diakhiri dengan seni"

Will Durant (1885 - 1981)

Penulis, sejarawan, dan filsuf asal Amerika Serikat



Kelengkapan data tulisan ini diambil dari berbagai sumber, kebanyakan dari historyofscience.com
Sumber gambar:
● Hipparchus → William Cunningham Cosmographicall glasse (1559)
● 3D Model from Aberiu
● Perspective drawing from drawmarvel.com
 
Jangan lupa klik gambar untuk memperbesar, bukan diemut



Tuesday, November 9, 2010

Masih Ada Pahlawan di Hari Pahlawan



Seorang Tionghoa bernama Wu Lai Tjang (1935-1992) sejak kecil kenyang menderita. Ia anak pedagang kelontong dan pakaian jadi di daerah Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Di masa pendudukan Jepang, toko milik orang tuanya dijarah dan dibakar, keluarga Wu pindah ke Jakarta di gang Ribal dekat Pintu Besar Selatan dan keluarga ini mulai berdagang lagi. Di masa kemerdekaan, ia pernah dipenjara selama 11 bulan karena menanggung kesalahan kakaknya memperdagangkan barang selundupan.

 Wu Lai Tjang besar, mengganti namanya menjadi Muhammad Saleh Kurnia, di tahun 1950 ia mendirikan CV Hero yang kemudian membesar dan menjadi PT. Hero Supermarket Tbk.

Adapun Hero, supermarket pertama di Indonesia yang didirikannya di tahun 1971 bertempat di Jl. Falatehan 1/23, Jakarta Selatan.

Satu waktu di hari Minggu tanggal 10 Mei 1992, Wu Lai Tjang meninggal dunia dan mewariskan 72 outlet Hero yang tersebar luas di sekitar Jakarta. Tampuk kepahlawanan Hero pun diserahkan pada anaknya yang bernama Ipung Kurnia yang kala itu masih berusia 29 tahun.

Sayang, lokasi pertama Hero Supermarket di Jl. Falatehan 1/23 bankrut dan tutup tanggal 1 Agustus 1996. Tempat ini sekarang dihuni oleh Bank Niaga Cabang Falatehan, tempat saya terjerat hutang KPR untuk rumah di Studio Alam Depok sampai tahun 2023.


* * * * *


Hero (pahlahwan) yang dimaksud jelas bukan supermarket, namun inspirasi kepahlawanan Wu Lai Tjang bagi keluarga ini yang setidaknya perlu dicontek.

Menjadi pahlawan bukan seperti cerita komik ala Marvel dan DC Comic, harus memiliki kekuatan super untuk membantu sesama. Menjadi pahlawan adalah orang yang peduli dengan sekitar, dengan lingkungan, minimal menjadi pahlawan untuk keluarga sendiri, membesar ke lingkungan dan masyarakat.

Saat ada bencana beruntun di negeri kardus ini, orang-orang yang memiliki jiwa pahlawan bahu-membahu membantu. Caranya ya bermacam-macam, dari mulai cara klasik dengan mengedarkan kotak sumbangan di jalan-jalan, meminta orang untuk menyumbang lantas sumbangan orang itu diklaimnya sebagai sumbangan dari yayasan, kelompok, organisasi bahkan partai yang mengumpulkan. Ada juga dengan cara pentas musik, membuat bentukan kreativitas untuk orang lain juga mendapat manfaat dari menyumbang itu sendiri.

Ya, banyak para pahlawan kesiangan yang merasa perlu bertindak cepat, menonjolkan namanya, kumpulannya, organisasinya, juga partainya sebagai bentuk yang paling peduli terhadap sesama. Semua sah-sah saja, hanya saja saya secara pribadi cukup berkrenyit ketika melihat kotak sumbangan beredar di jalan-jalan raya, lengkap dengan atribut yayasan, kelompok, organisasi bahkan partai dengan mengatasnamakan sumbangan untuk anu, inu, dan lainnya.

Ya sudah, biarkan saja, sayanya saja yang usil...


* * * * *

Di MP, saya cukup miris membaca cerita tentang rekan-rekan relawan yang terusir dari posko mereka hanya karena mereka berbeda keyakinan. Maaf, saya tak berminat membahasnya dari  masalah agama di sini, hanya saja cerita tentang pengusiran pengungsi yang mondok di sebuah gereja karena takut aqidah para pengungsi itu terganggu, benar-benar membuat saya miris. Mereka mengatasnamakan sebuah kelompok yang memiliki jiwa kepahlawanan, menjaga barisan sesama dari segi kerusakan aqidah.

Situ mau jadi pahlawan ya?

Pahlawan dalam hal apa?

Duh...

Tak perlu disebutkanlah nama kelompok itu, biarkan saja jadi cerita sambil lalu.

Beberapa rekan MP yang kesal dengan kondisi ini, menuliskan kekesalannya di MP, baik dalam bentuk jurnal atau potongan pendek tulisan Quick Note. Saya hanya bisa mengomentari dengan kata-kata, "semangat, sabar, dan jangan terganggu", meski saya yakin omongan saya itu tidak akan berarti apa-apa buat temen-temen relawan semua. Saya yakin, temen-temen relawan itu jauh lebih bisa menyikapi hal-hal yang terjadi di lapangan.

Menjadi pahlawan bukan untuk dicatatkan namanya dalam sejarah, menjadi pahlawan bukan untuk dipuja-puji bahkan sampai masuk televisi. Menjadi pahlawan adalah bentukan kepedulian pada sesama tanpa harus diembel-embeli pesan tertentu yang menghapus keragaman yang ada. Sampai kiamat pun takkan pernah bisa menyamaratakan kebersamaan dalam sebuah paham, aliran atau golongan tertentu. Bila semua menganggap dirinya yang terbaik, menganggap orang lain itu salah dan perlu diluruskan, hancurlah sudah kepahlawanan itu.

Lepas dari apapun rekan-rekan relawan yang ikhlas membantu tanpa tendensi apa-apa selain semangat menyatukan keragaman dan membantu sesama itu yang pahlawan. Di luar dari itu hanya sekumpulan pahlawan-pahlawan kesiangan, membantu dengan tendensi tertentu.

Maju terus pahlawan!

Semangat!

Kita semua masih percaya dengan kepahlawanan yang tulus tanpa bungkus. Negeri kardus ini memang perlu diurus, setidaknya dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dengan baik. Persetan dengan wakil rakyat dan pemimpin nggak becus, yang bisanya cuma ngomongin tentang kakus dan itu jelas nggak tulus...



Wednesday, July 14, 2010

Sejarah Depok, Budak, dan Cornelis Chastelein


Bisa jadi Pramoedya adalah sastrawan pertama yang mengangkat cerita tentang Depok dalam novelnya, Bumi Manusia. Buku yang ditulisnya semasa jadi tahanan politik Oktober 1965 sampai Desember 1979.

14 tahun dibui dan berpindah-pindah penjara, di tempat terasing ini Pram membuat Tetralogi Pulau Buru. Salah satu karyanya selama masa penahanan adalah Bumi Manusia, ditulis sekitar tahun 1973.

Bumi Manusia dicetak untuk umum oleh Aga Press tanggal 25 Agustus 1980. Belum setahun buku itu terbit, tanggal 29 Mei 1981 Kejaksaan Agung mengeluarkan Surat Keputusan bernomer SK-052/JA/5/1981 yang menyatakan karya Pram sebagai buku terlarang. Tuduhannya adalah menyebarkan ajaran Marxisme, Leninisme dan Komunisme. Sampai akhirnya buku itu boleh terbit lagi September 2005, Penerbit Lentera Dipantara yang merilisnya.

Sebenarnya apa yang ditulis Pram di Bumi Manusia?

Cerita roman dengan setting sejarah sekitar tahun 1898 sampai 1918, masa awal dari periode Kebangkitan Nasional. Pram menulis cerita tentang kisah cinta 2 anak manusia dengan latar belakang yang berbeda. Seorang anak priyayi Jawa bernama Minke, mencintai gadis Belanda Depok bernama Anneliesse Millema.

Pram sendiri juga tidak menulis Depok secara detil, hanya menekankan pada daerah di pinggiran Batavia yang banyak terdapat perempuan simpanan Belanda. Dipekerjakan sebagai budak, di antaranya ada yang dijadikan istri tanpa dinikahi. Seperti kata Pram di buku Bumi Manusia.


Cornelis Chastelein dan Depok
 

Depok sendiri sebenarnya sudah lama ada kehidupan sejak Cornelis Chastelein, seorang pengusaha VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) melihat potensi daerah ini dan mengembangkannya di tahun 1693. Datang ke Depok membawa banyak budak asli orang Indonesia dan mengelola tempat ini sebagai lokasi untuk menanam hasil bumi, membuka banyak lahan untuk perkebunan dan pertanian di pinggiran kota Batavia.

Saat itu sistem perbudakan masih ada, Indonesia pun terkena imbasnya. Tak hanya menjajah, Belanda juga merampok kebebasan individu bangsa Indonesia meski tidak separah Afrika yang sebagian besar kemerdekaan penduduknya dicuri oleh negara-negara Eropa dan diperdagangkan sebagai budak ke berbagai negara.

Belanda baru sadar HAM dan menghapus sistem perbudakan tanggal 1 Juli 1863, mulai dari negeri jajahannya di Suriname. Tanggal yang kemudian oleh warga negara Suriname diperingati sebagai Hari Keti Koti, hari lepasnya belenggu Suriname dari perbudakan Belanda.

Bila temen-temen masih ingat, negeri kincir angin ini pernah memenangkan piala Euro 1988, kapten kesebelasannya, Ruud Gullit adalah keturunan Suriname, di mana sering disinyalir orang masih ada keturunan Jawa. Orang Indonesia pun ada juga yang jadi budak, diperjualbelikan antar negara, bahkan sampai dipekerjakan di Suriname. Tak heran apabila kecurigaan Ruud Gullit itu ternyata orang Jawa begitu besar.

Adapun orang Indonesia yang dipekerjakan di Suriname atau di negara-negara lain oleh Belanda pada masa itu, tentunya bekerja sebagai budak, bukan sebagai karyawan atau ekspatriat.

Cornelis Chastelein sebagai penguasa Depok pertama di tahun 1693, memiliki banyak budak dari berbagai daerah dan suku-suku di Indonesia. Mereka datang dari Bali, Ambon, Bugis, Bima (Nusa Tenggara), Pulau Rote, Jawa, juga Sunda. Kabarnya ia orang yang anti perbudakan, apalagi bila budak itu beragama Kristen Protestan. Untuk itu Chastelein menawarkan kebebasan pada budaknya bilamana bersedia mengkonversi keyakinannya menjadi Kristen Protestan.

Dalam jaman yang masih mengenal perbudakan, Chastelein justru menerapkan sistem upah pada para budaknya yang kemudian dimerdekakan dan diubah status menjadi koelie alias pekerja, bekerja dan mendapatkan upah, bukan bekerja tanpa gaji apa-apa sebagaimana layaknya budak. Sejalan dengan waktu, ia juga berhasil membawa Depok menjadi kota yang nyaman untuk jadi tempat tinggal hingga sekarang.


Tak heran para pekerjanya begitu kehilangan ketika ia meninggal dunia tanggal 28 Juni 1714. Nama Cornelis Chastelein begitu dikenang, hingga oleh anak keturunan dari para pekerjanya didirikanlah Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) yang bertempat di Jl. Pemuda No.69, Depok Lama, Depok 16431.

LCC kini berbentuk yayasan dan bergerak dalam bidang pendidikan lewat sekolah bernama SMA Kasih, pun melestarikan aset warisan peninggalan Cornelis Chastelein agar tidak tergusur, punah dan tergerus oleh pembangunan kota juga perkembangan jaman.


Belanda Depok dan Sejarah Depok


Kata Belanda Depok ini cukup satir, sering dijadikan bahan ejekan anak-anak sekolah pada temannya yang berkulit putih dan berambut merah kecoklatan di Jakarta dan sekitarnya. Meski begitu, tidaklah benar sebutan ini dilekatkan pada fisik tertentu sebagai bahan celaan.

Sejarah Depok seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, para budak Cornelis Chastelein yang akhirnya dibebaskan dan jadi pekerja, meneruskan tempat ini turun-temurun. Mereka menjaga tempat-tempat peninggalan bersejarah kota Depok.

Merekalah warga pertama yang mendiami tempat ini bersama tuannya, Cornelis Chastelein. Ketika tuannya meninggal, ratusan budaknya dikelompokkan menjadi 12 fam atau marga dan mendapat wasiat darinya untuk merawat perkebunan. 12 marga tersebut adalah Laurenz, Loen, Leander, Jonathans, Joseph, Yakob, Sudira, Samuel, Zadoch, Isac, Bakas dan Tholence.

Mereka menolak sebutan Belanda Depok, dari dulu hingga sekarang.

Seperti yang dikutip dari okezone.com, Ketua LCC, Rene Roland Loen mengatakan, "Kami ini sejak dulu orang Indonesia. Leluhur kami hanya sebagai pekerja di perkebunan milik Cornelis. Secara otomatis kami dididik dengan pola dan gaya hidup Belanda. Lalu siapa sebenarnya yang dipanggil Belanda Depok?"

Suzanna Leander, pengurus LCC juga menambahkan, "Kami tersinggung jika dipanggil Belanda Depok, itu penghinaan buat kami. Belanda kan kulitnya putih rambutnya pirang. Kami itu pribumi, beda. Kami bukan penjajah. Lebih baik sebut kami budaknya Chastelein, karena memang begitu kenyataannya," tegasnya saat berbincang dengan okezone.

Warisan Chastelein yang dikelola dan oleh LCC lumayan banyak, kesemuanya itu adalah aset sejarah kota Depok yang perlu dilestarikan. Bekas rumah megah Chastelein berubah menjadi Rumah Sakit Harapan. Dari yang dulunya sekolah untuk para budak yang didirikan Chastelein, kini telah berubah menjadi SD Pancoran Mas 2. Tanah yang dulunya bekas perkebunan, kini telah menjadi lapangan bola di samping Rumah Sakit Hermina. Pun masih banyak lagi lainnya.

Sementara rumah saya di Studio Alam?

He he he, saya nggak tau pasti. Bisa jadi daerah tempat saya tinggal dulunya adalah hutan bambu yang nggak jelas dan belum dikelola serius oleh Chastelein di masanya.





Luqman Hakim
Dari berbagai sumber


Catatan: Ditulis buat mengikuti syarat Lomba Blog Depok, 17 Juli – 17 September 2010 (http://lombablogdepok.com/)



Sumber gambar:
Gambar 1: Cover buku cetakan pertama Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Aga Press, 1980
Gambar 2: Logo VOC di salah satu kastil di Cape Town, Africa Selatan, properti foto milik David Cohen
Gambar 3: Logo Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, Depok
Gambar 4: Rumah milik Rijklof Loen, foto tahun 1935, properti foto milik dari depok.nl