| Rating: | ★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Other |
Banyak yang tau, tapi sedikit yang mengenal, siapa Che Guevara?
Film yang berkisah perjuangan revolusioner Ernesto Guevara berdasarkan buku "Reminiscences of the Cuban Revolutionary by Ernesto 'Che' Guevara". Buku kenang-kenangan yang ditulisnya saat mendampingi Fidel Castro memimpin revolusi Cuba.
Kisah ini diangkat Steven Soderbergh untuk mengenang tokoh revolusioner legendaris yang bergeser menjadi icon perjuangan tak kenal takut, icon yang kerap diusung demonstran di kalangan mahasiswa saat mengkritisi kebijakan pemerintah, pun melenceng jauh jadi icon di kalangan industri fashion sebagai simbol pemberontakan dan anti kemapanan.
'Che', sebutan yang berarti 'Bung' dalam bahasa Spanyol, dilekatkan pada Ernesto Guevara yang asli Argentina, diceritakan banyak mengalami kesulitan saat memimpin revolusi Cuba. Di bulan Juli 1955 saat berada di Mexico City, ia dikenalkan dengan Fidel Castro, yang mengajaknya bergabung untuk menggulingkan diktator Cuba saat itu, Fulgencio Batista. Che bertanya balik, apa Castro punya uang untuk revolusi? Dijawab singkat, 'belum'. Bertanya lagi apakah punya pasukan? Castro menjawab ada beberapa yang siap untuk melakukan revolusi dan beberapa di antaranya ada di Mexico City. Dan, di sinilah awal dari seorang dokter alumni Fakultas Kedokteran, Universitas Buenos Aires, Argentina, memutuskan diri menjadi sosok pejuang revolusioner.
3 Movie Poster yang berbeda-beda namun tetap 1 film
Film yang melompat-lompat, dibuka dengan setting Havana di bulan Mei 1964, kamera yang menggambarkan sosok khas Che (diperankan oleh Benicio Del Toro), mata yang tajam, bibir yang tak lepas dari cerutu dan jenggot yang tak terurus rapi. Adegan lompat ke bulan Maret 1952 saat kerusuhan Cuba menentang diktator Fulgencio Batista. Kemudian setting cerita lompat dan lompat lagi ke tahun-tahun di mana beberapa peristiwa penting yang menandakan sejarah Che memimpin revolusi.
Che memimpin gerakan dengan gayanya yang kharismatik, seperti kata Castro, Che punya kekuatan diplomasi politik yang baik namun tetap slebor dan sembrono. Bisa dilihat saat menangani anak buahnya, Esteban yang mbeling, merasa hebat ikut dengan gerakan revolusioner Che, tapi sering membantah dan tak mau menurut. Sampai akhirnya Esteban sudah keterlaluan, mengaku-ngaku sebagai Komandan Garis Kedua di Pasukan Castro yaitu Almeida, memeras rakyat bahkan memperkosa anak dari Juan Carloz Estevez, warga sipil biasa. Che tak bisa lagi mendiamkan, lalu menghukum mati Esteban dengan hukuman tembak.
Dalam perjuangannya, Che bertemu dengan seorang wanita cantik pejuang revolusioner juga, Aleida March de la Torre (diperankan oleh Catalina Sandino Moreno), yang kelak dinikahi dan jadi istri keduanya.
Che yang sudah menikah dengan gadis Peru, Hilda Gadea dan memiliki seorang putri yang bernama Hildita, tak dikisahkan latar belakang keluarganya di film ini, istri dan anak Che. Film yang hanya mengisahkan sisi heroik Che dengan segala idealisme revolusinya. Che yang mengharamkan pasukannya merampas harta dan hak rakyat, Che yang lebih memilih jalan kaki daripada harus merampas mobil warga sipil, dan Che dengan segala kekuatan diplomasinya di PBB.
Che memang icon yang tak pernah mati. Bilamana berharap banyak dari film ini, menonton aksi perang yang dilakukan Rambo pada Vietcong, tak akan ketemu di sini. Peperangan yang ada itu adalah adegan film yang alami dan tak berlebihan seperti tokoh Rambo. Che yang ikut bersama pasukannya di garda depan, menyerang pasukan-pasukan diktator Fulgencio Batista. Sebuah film kontemplatif tentang dilematisnya sebuah gerakan humanisme menentang kediktatoran penguasa dengan senjata. Film dengan dialog bahasa Spanyol, sambil sesekali diselingi wawancara Che dengan bahasa Inggris saat ia berkunjung ke New York.
Ada sebuah pertanyaan bodoh setelah menonton film ini, andaikan saja tokoh pemimpin Palestina punya kekuatan karakter seperti Che, mungkinkah negeri itu aman dari serbuan Israel yang juga sama-sama gerah terus bertikai di jalur Gaza? Andaikata setiap pemimpin punya idealisme menyelamatkan rakyatnya dari para tiran, dari egoisme negara lain, pemimpin yang tak hanya bersembunyi di balik nama "pemimpin negara" namun mampu menemukan jalan lain dari kesejahteraan dan kemakmuran dari kekuatan karakternya, membawa nama baik dan harga diri bangsa di mata negara lain dengan tetap memperkuat basis kekuatan karakter pada seluruh rakyat, tentulah negara itu bisa jadi negara yang kuat meski bukan negara adidaya macam Amerika. Tapi Mahmoud Abbas bukanlah Mohammed Abdel Rahman Abdel Raouf Arafat al-Qudwa al-Husseini atau yang lebih dikenal dengan Yasser Arafat (24 Agustus 1929 – 11 November 2004), sulit menyamakannya dengan tokoh pejuang PLO dengan segala kekuatan karakternya.
Singkatnya tentang film ini, rugi dilewatkan bagi para pecinta film-film alternatif, apalagi bagi yang sudah bosan dan muntah menonton film-film keluaran Hollywood, apalagi Bollywood.






